SketsaNusantara.id - Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera dalam beberapa hari terakhir mendorong pemerintah fokus pada penanganan korban.
Situasi yang berkembang cepat membuat pemulihan wilayah menjadi prioritas utama. Respons ini disampaikan setelah beberapa daerah melaporkan kerusakan infrastruktur serta peningkatan risiko cuaca ekstrem.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan mitigasi harus berjalan beriringan dengan penanganan warga terdampak.
Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyatakan rasa duka atas bencana di berbagai lokasi tersebut. Ia menegaskan pentingnya penanganan korban dan pemulihan daerah.
“Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah,” katanya.
Pernyataan ini menegaskan arah kerja pemerintah yang mengutamakan keselamatan masyarakat.
Baca Juga: Update Data Korban Bencana Banjir dan Longsor Sumatera, 166 Orang di Sumut Meninggal Dunia
Bencana dilaporkan terjadi di lima kabupaten, yakni Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Analisis sementara menunjukkan tiga faktor penyebab utama.
Curah hujan ekstrem menjadi pemicu dominan, diikuti karakter geomorfologi yang curam dan litologi lapuk yang mudah tererosi. Kombinasi ketiganya meningkatkan peluang terjadinya longsor serta memperluas kerusakan di beberapa titik rawan.
Lana menjelaskan upaya pencegahan di wilayah rawan longsor memerlukan penguatan kapasitas masyarakat. Edukasi terkait tanda awal longsor, jalur evakuasi, serta peningkatan vegetasi lereng menjadi langkah kunci.
Pengendalian tata guna lahan di lereng curam juga dinilai krusial untuk mengurangi risiko. Perbaikan drainase permukaan diperlukan agar aliran air tidak memperburuk kondisi tebing yang rentan bergerak. Pendekatan ini disiapkan untuk menjaga keselamatan warga pada musim hujan.
Pada kasus longsor di dua kabupaten di Sumatera Utara, kawasan perbukitan curam di sekitar Kota Sibolga berada dalam zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Kondisi ini membuat daerah tersebut kerap mengalami kejadian serupa.