SketsaNusantara.id - Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember telah menyelenggarakan sebuah pertemuan besar (sarasehan) yang mempertemukan ulama dan akademisi.
Tujuan dari hasil diskusi tersebut, untuk endalami kontribusi penting Islam serta peran perguruan tinggi keagamaan dalam mempertahankan keseimbangan esensial antara tradisi keilmuan, ajaran agama, dan tantangan kontemporer.
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, menggarisbawahi urgensi pengembangan karakter generasi muda Muslim agar mereka tetap teguh di tengah gejolak dan kompleksitas perubahan dunia.
Dalam pemaparannya, Prof. Hepni memperkenalkan tiga karakter prototipe ideal yang harus dimiliki oleh mahasiswa UIN KHAS: Robbi Rodiya, Qowiyyul Amin, dan Ulul Albab.
"Seorang Robbi Rodiya adalah mereka yang hidup dalam keridaan Allah. Qowiyyul Amin merujuk pada pribadi yang memiliki kekuatan dan dapat dipercaya (amanah), sementara Ulul Albab adalah mereka yang memiliki daya pikir mendalam serta bijaksana dalam mengevaluasi realitas," kata Prof. Hepni, Rabu 19 November 2025.
Menurutnya, praktik moderasi beragama (beragama jalan tengah) memegang peranan vital sebagai kunci untuk menjaga keharmonisan sosial. Hal ini menjadi benteng utama di tengah ancaman krisis identitas dan polarisasi ekstrem yang dipicu oleh derasnya arus informasi global.
Baca Juga: ICNARA 2025, UIN KHAS Jember: Akademisi Dunia Bahas Islam Nusantara, Sains, dan Krisis Lingkungan
"Moderasi sama sekali bukan bentuk kompromi yang lemah. Sebaliknya, ia adalah jalan lurus yang mengukuhkan titik keseimbangan antara dimensi iman dan kemanusiaan, antara teks (norma agama) dan konteks (realitas), serta antara masa lalu dan prospek masa depan," jelasnya.
Dia juga menyoroti empat fondasi utama yang dibutuhkan untuk kebangkitan peradaban Islam di era modern: akhlak yang mulia (akhlakul karimah), penguasaan ilmu pengetahuan, persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), dan semangat kedermawanan.
Empat nilai inti tersebut, lanjutnya, wajib mendarah daging dalam diri mahasiswa. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh menjadi kekuatan moral sekaligus intelektual yang mampu membawa kemaslahatan bagi seluruh alam.
Baca Juga: Bedah Buku dan Dialog Lintas Agama UIN KHAS Jember: Merawat Bumi dalam Bingkai Moderasi Beragama
"Ketika nilai-nilai etika, ilmu, tali persaudaraan, dan kepedulian sosial menyatu, di situlah akan lahir generasi Muslim yang mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin)," paparnya.
Prof. Hepni menambahkan, ditengah gelombang globalisasi yang sangat berpotensi mengikis nilai luhur. Maka para akademisi harus menjadi subjek yang menciptakan sejarah, bukan hanya menjadi audiens yang pasif.