“GNI itu salah satu alternatif. Kalau memang termasuk cagar budaya, tentu akan dipertimbangkan,” ujar Yessy kepada wartawan.
5. GNI Memiliki Nilai Arsitektur dan Historis Tinggi
Dari sisi arsitektur, GNI mencerminkan pergeseran gaya bangunan dari kolonial ke nasional. Para insinyur dan arsitek lokal di era 1950-an memiliki semangat untuk menampilkan unsur keindonesiaan dalam karya mereka.
"Ia merupakan bangunan yang penting. GNI dianggap sebagai arsip arsitektur kemerdekaan yang sangat berharga," jelas RZ Hakim.
6. Didorong Jadi Gedung Kesenian atau Museum Daerah
Dalam wawancaranya, RZ Hakim juga berpendapat bahwa GNI sebaiknya direstorasi dan dijadikan Gedung Kesenian atau Museum Daerah, bukan dialihfungsikan secara total. Selain menjaga marwah sejarahnya, gedung ini juga bisa menjadi magnet wisata budaya bagi warga Jember maupun wisatawan dari luar kota.
7. Tantangan Restorasi: Tidak Murah tapi Bernilai
Restorasi bangunan bersejarah seperti GNI memang membutuhkan dana besar dan tidak selalu populer secara politik. Namun, banyak pihak menilai bahwa menjaga esensinya jauh lebih penting daripada mengubah fungsinya menjadi dapur umum sementara.
"Selain berada di pusat kota Jember, posisi GNI juga strategis sebagai ruang publik yang edukatif dan berdaya tarik wisata," jelas RZ Hakim.
Polemik rencana alih fungsi Gedung Nasional Indonesia menjadi dapur program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa kebijakan publik kerap bersinggungan dengan pelestarian warisan budaya.
"Ini jadi momentum penting untuk menanti langkah bijak Pemerintah Kabupaten Jember dalam menentukan masa depan GNI, apakah tetap mempertahankan nilai sejarahnya atau mengubah fungsinya demi kepentingan program sosial," pungkas Hakim.
GNI bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjuangan dan kemandirian arsitektur Indonesia yang sudah berdiri kokoh sejak hampir tujuh dekade lalu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!