Secara sederhana, KPJM adalah kerangka perencanaan keuangan negara dalam jangka menengah yang biasanya digunakan pemerintah untuk mengukur kesehatan fiskal.
Jika program besar seperti MBG dihentikan secara mendadak, maka angka defisit, belanja sosial, hingga utang negara bisa terganggu.
Ia menambahkan, jika MBG dihentikan tiba-tiba, maka permintaan dari APBN ke sektor riil dapat menurun sehingga laju pertumbuhan ekonomi bisa melambat.
“Kalau dihentikan mendadak, permintaan dari APBN ke sektor riil turun, growth ekonomi bisa saja melambat,” jelas Ferry.
Menurut Ferry, pada dasarnya program MBG memiliki tujuan yang baik, yakni mendorong konsumsi masyarakat di berbagai sektor.
“Jika dilakukan dengan bener, MBG itu dirancang buat dorong konsumsi (sektor pangan, UMKM katering, distribusi logistik),” tulisnya lagi.
Dengan kata lain, MBG tidak hanya sekadar memberi makan gratis, tetapi juga mendukung rantai ekonomi yang melibatkan pelaku usaha kecil, katering, hingga distribusi logistik.
Ferry tidak menampik bahwa program MBG saat ini memang menghadapi berbagai kendala.
Namun, menurutnya, yang harus dibenahi adalah sistem dan pelaksanaannya, bukan menghentikan program secara keseluruhan.
“Yang perlu dibenerin itu rasio anggarannya, prioritas penerimanya, pelaksanaannya, distribusi, sampai quality control dan standarisasinya,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya timeline evaluasi yang jelas, termasuk perbaikan dan refocusing anggaran negara.
“Buat timeline evaluasi yang bener, perbaiki, refocusing APBN kalau ternyata realisasinya gak sesuai outcome, ya mulai shifting,” lanjut Ferry.