SketsaNusantara.id - Ucapan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, baru-baru ini menjadi bahan perbincangan hangat di masyarakat. Potongan ucapannya yang beredar luas di media sosial menimbulkan kontroversi, khususnya di kalangan tenaga pendidik yang merasa profesinya dianggap kurang dihargai. Polemik ini bahkan sempat menjadi bahan perdebatan panas antara pihak yang pro maupun kontra.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Menteri Agama akhirnya muncul dengan memberikan penjelasan resmi. Melalui unggahan di akun Kementerian Agama, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada seluruh guru di Indonesia.
Nasaruddin menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat dirinya untuk merendahkan profesi guru, justru sebaliknya ia ingin menekankan betapa mulianya peran seorang pendidik.
Dilansir SketsaNusantara.id dari dalam potongan video yang diunggah di akun Instagram @bushcoo, Nasaruddin sempat menyampaikan pernyataan jika ingin mencari uang, jangan jadi guru.
“Menjadi seorang guru itu mulia sekali. Halalan, tayyibah, rezekinya itu, insyaallah. Maka itu jangan ikut-ikutan terhadap para pedagang. Emang tujuannya mencari uang, sedangkan guru itu tujuannya mulia, bagaimana memintarkan anak orang. Itu tujuannya, bukan cari uang. Kalau mau cari uang, jangan jadi guru, jadi pedaganglah,” ucapnya dalam video yang diunggah.
Ucapan ini lah yang memicu tafsir berbeda di masyarakat, sehingga menimbulkan kekecewaan dari sejumlah pihak.
Dilansir SketsaNusantara.id dari video klarifikasinya yang diunggah akun Instagram resmi @kemenag_ri, Nasaruddin Umar menyampaikan penyesalan mendalam.
“Saya, Nasarudin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, menyadari bahwa potongan pernyataan saya tentang guru menimbulkan tafsir yang kurang tepat dan melukai perasaan sebagian guru. Untuk itu saya sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya, tidak ada niat sedikitpun bagi saya untuk merendahkan profesi guru,” ucapnya.
Menurutnya, guru merupakan profesi yang sangat mulia karena dengan ketulusan hati mereka lah generasi bangsa ditempah.
Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya sangat paham dengan perjuangan guru karena berasal dari keluarga pendidik.
“Saya sendiri adalah seorang guru, bapak saya juga seorang guru SD. Puluhan tahun hidup saya abdikan diri sebagai guru, mendidik di madrasah, di pondok, dan di mahasiswa, menulis dan membimbing,” ucapnya.