SketsaNusantara.id - Akhir bulan Agustus menjadi gerakan bersejarah, akibat banyaknya gelombang massa di berbagai daerah di Indonesia yang menyuarakan aspirasinya.
Namun, ironisnya di berbagai daerah banyak sekali kejadian yang di luar prediksi hingga banyak fasilitas umum (fasum) mengalami kerusakan.
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember Akhmad Taufiq mengatakan, ada 3 hal penting yang perlu dilihat pasca kejadian beberapa waktu lalu.
Hal yang pertama, dilihat bahwa aksi massa ini ingin menyampaikan aspirasi dan buah pikirnya kepada bangsa.
"Dalam posisi itu, elit dan semua pihak harus menyadari betul bahwa kita dalam keprihatinan kolektif, terlebih beban hidup yang menimpa rakyat kecil," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa 2 September 2025.
Akhmad Taufiq juga mengungkapkan, sikap yang ditunjukan oleh massa ini dibutuhkan karena esensinya seluruh kebijakan yang dikeluarkan harus berdasarkan pada ruang kesadaran melihat realita sosial saat ini.
"Pemerintah harus berada pada ruang kesadaran, untuk mempertimbangkan sepenuhnya kondisi keprihatinan rakyat kecil ini," imbuhnya.
Tokoh NU Jember ini juga menilai, bahwa penyampaian aspirasi ini harus disampaikan dengan cara-cara yang lugas dan ada batasan-batasannya.
"Tidak dibenarkan bagi masyarakat yang memberikan aspirasinya di muka publik, hendaknya melakukan tindakan anarkisme dalam bentuk apapun," tegasnya.
"Apalagi hingga terjadi penjarahan, perusakan hingga membakar fasum. Karena bila ditelisik lebih jauh, maka yang banyak dirugikan dari aksi seperti ini adalah masyarakat sendiri. Sebab, ini dibiayai oleh uang kita sendiri (uang rakyat)," paparnya.
Ketiga menurut Mantan Ketua IKA PMII Jember ini, setelah berbagai gelombang aksi di berbagai daerah untuk bisa memberikan ruang evaluasi secara menyeluruh.