Beliau pun pernah meminta sang istri untuk menutup usaha toko bunga kecil mereka, supaya tidak memungkinkan adanya suap dari seseorang atau yang hanya berpura-pura sebagai pembeli bunga.
Seakan-akan benteng pertahanan kejujuran ia bangun tidak boleh diruntuhkan sedikitpun. Sempat diceritakan bahwa ada seorang pengusaha yang mencoba untuk datang ke rumah beliau dan dengan maksud memberikan titipan.
Dengan tenang, Jenderal Hoegeng menolak titipan tersebut.
"Kantor polisi tidak punya brankas untuk uang semacam itu," kata beliau pada kutipan Instagram @arsip.peristiwa
Keberanian yang tinggi itu bukan hanya soal menolak akan tetapi beliau benar-benar tidak ingin menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh.
Beliau tak gentar, bahkan pada saat itu juga sempat dihadapkan pada sebuah kasus penyelundupan mobil mewah yang ikut menyeret nama-nama besar pada lingkaran istana negara.
Jabatan yang selama ini diemban sedikit terguncang, beliau mulai dimusuhi dan ditekan dari segala arah. Hal ini bukan karena beliau bersalah akan tetapi beliau terlalu lurus pada lingkungan yang bengkok.
Akhirnya pada tahun 1971, beliau “dipensiunkan” lebih awal. Meski bergelar KAPOLRI beliau dipensiunkan tanpa adanya upacara dan penghormatan yang sesuai. Beliau di pinggiran dengan kesunyian.
Setelah kehilangan jabatannya tersebut beliau menemui Ibunya dan mengatakan bahwa sekarang beliau tidak memiliki pekerjaan.
“Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam”. dikutip dari Instagram @zonainfoid
Hal yang beliau rasakan tak membuatnya memiliki rasa dendam. Baginya kehilangan jabatan lebih baik ketimbang tidak menjadi orang baik. Mungkin seperti itulah hati nuraninya berkata.
Kini beliau menjadi standar yang tinggi seorang polisi yang berintegritas dan patut dijadikan contoh para pejabat di zaman sekarang dan yang akan datang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!