SketsaNusantara.id - Jendral Hoegeng Imam Santoso adalah seorang anak lelaki yang berasal dari pasangan suami istri yang hidup dengan kesederhanaan.
Beliau dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi integritas dan kejujuran. Ayah beliau adalah seorang jaksa. Sudah tentu beliau akrab dengan hukum di negeri ini.
Keinginan Hoegeng kecil adalah ingin menjadi seorang polisi. Hal ini karena beliau pernah melihat teman ayahnya yang berprofesi serupa. Beliau pernah menempuh pendidikan di Sekolah Belanda bahkan pernah terlibat dalam pelatihan militer Jepang.
Baca Juga: 7 Polisi Brimob Terungkap dalam Kasus Tewasnya Driver Ojol saat Demo DPR, Publik Memanas
Dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @arsip.peristiwa, Jenderal Hoegeng Iman Santoso menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia dan berdinas di Jakarta pada tahun 1968-1971.
Awal karirnya menjadi seorang polisi. Jenderal Hoegeng tidak lupa akan nasihat ayahnya untuk tetap menjadi seorang polisi yang jujur. Hingga beliau diberikan amanah menjadi seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia (KAPOLRI) yakni sebuah pangkat tertinggi seorang penegak hukum.
Awal karirnya ia sudah mendapatkan ujian untuk menangani kasus Sumareum seorang pedagang telur atau panggilan akrabnya “Sum” atas kasus perkosaan.
Baca Juga: Polisi Imbau Peserta Aksi Buruh Tidak Live TikTok, Netizen: Apa Rasionalitasnya?
Jenderal Hoegeng merasakan begitu rumitnya kasus yang dialami Sum. Ketika itu Sum juga sempat dituduh menjadi bagian dari Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yaitu sebuah anggota yang tergabung dalam PKI (Partai Komunis Indonesia), ia pun juga dijadikan seorang tersangka dalam tuduhan palsu sehingga membuat kasusnya semakin pelik.
Tak tinggal diam Jenderal Hoegeng memerintahkan seorang anak buahnya, untuk mencari tahu kebenaran dibalik kasus yang dialami Sum. Pada saat itu keberanian Jenderal Hoegeng begitu tinggi untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan untuk Sum, walaupun pada saat itu ia harus menghadapi para petinggi-petinggi negeri ini.
Pada zaman itu suasana begitu keruh jabatan pun bisa dengan mudahnya ditukar dengan sebuah amplop berisi uang. Kekuasaan dan hukum dapat dibelokkan. Akan tetapi Jenderal Hoegeng tetap berdiri dengan berani, meskipun dengan tubuh kurus tak menggetarkan hati beliau untuk tetap bersikap jujur. Meskipun jabatannya yang paling ditakuti di negeri Indonesia ini beliau tetap memiliki senyum dan wajah yang teduh.
Menjadi seorang jenderal beliau bukan pribadi yang suka dengan pengawalan. Bahkan beliau menolak untuk diberikan tempat tinggal yang mewah di sebuah rumah dinas POLRI.
Potret kesederhanaan yang beliau lakukan sama dengan yang telah diajarkan oleh Ayah dan Ibunya. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh seorang pejabat tinggi.