“Turut berduka atas kejadian menyedihkan yang barusan terjadi. Videonya tersebar luas di mana2. Sangat menyedihkan. Semoga hal ini segera diinvestigasi. Karena kejadian pelindasan itu sangat2 kejam. Turut berduka sekali lagi untuk keluarga korban,” tulisnya.
Setelah menyampaikan empati, dr. Tirta kemudian melontarkan kritik keras terhadap logika di balik peristiwa ini.
Ia mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah kendaraan baja berukuran besar dibiarkan melaju dengan kecepatan tinggi ke arah massa.
Baca Juga: Tewas Dilindas Rantis, Affan Kurniawan Diantar Ribuan Rekan Ojol ke Peristirahatan Terakhir
“Ya bayangin aja mobil segedhe itu dibuat lindas orng, mana ga brenti pula. Apa esensinya juga nabrakin massa pake mobil segedhe itu. Jujur liat videonya, serem banget itu. Semoga keluarga korban yang tabah ya. Turut berduka sekali lagi,” tulisnya lagi.
Ungkapan ini mencerminkan kemarahan publik yang menilai tindakan tersebut sama sekali tidak masuk akal.
Baginya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan rantis Brimob melintas hingga melukai bahkan menghilangkan nyawa.
Salah satu poin penting yang disoroti dr. Tirta adalah keberadaan bukti video.
Ia menilai rekaman kejadian tersebut memperlihatkan dengan jelas bagaimana insiden terjadi, sehingga sulit bagi siapapun untuk menutupi kebenaran.
“Bukti videonya jelas. Ga mngkin itu masuk blindspot,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menjadi jawaban atas kemungkinan alasan klasik yang kerap dilontarkan aparat, yakni soal keterbatasan pandangan atau blindspot.
Menurutnya, dalih semacam itu sudah tidak relevan ketika bukti rekaman memperlihatkan secara gamblang kejadian di lapangan.
Ucapan “Permintaan maaf saja ga cukup” yang disampaikan dr. Tirta menjadi representasi tuntutan publik agar ada tindakan nyata.