news

Ferry Irwandi Soroti Diskriminasi Buta Warna di Indonesia, Serukan Perubahan Aturan Nasional

Selasa, 15 Juli 2025 | 18:30 WIB
Tangkapan layar Ferry Irwandi memulai langkah nyata melawan diskriminasi penderita buta warna lewat edukasi publik hingga penyusunan naskah akademik (Youtube MALAKA)

 

SketsaNusantara.id - Sebuah peristiwa diskusi online yang melibatkan Ferry Irwandi dan seorang koas bernama Dr. Nicole, memantik sebuah pergerakan yang tak direncanakan sebelumnya.

Awalnya hanya berupa perdebatan ringan di TikTok mengenai apakah penderita buta warna dapat menjadi dokter.

Namun respons terbuka Dr. Nicole, yang menerima koreksi dari Ferry dengan lapang dada, menjadi momen penting yang mendorong Ferry memutuskan untuk turun tangan lebih dalam memperjuangkan nasib para penderita buta warna di Indonesia.

Baca Juga: Neo Historia Akhirnya Angkat Bicara soal Polemik Ferry Irwandi dan Hak Penulis yang Belum Tuntas

Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Malaka, Ferry menjelaskan bahwa berdasarkan persentase global, sekitar 8-10% populasi dunia adalah penderita buta warna, dengan angka dominan pada laki-laki.

Jika diterapkan pada konteks Indonesia, angkanya bisa mencapai 11 hingga 12 juta orang. Namun, mayoritas masyarakat yang memiliki penglihatan normal cenderung tidak memahami kehidupan dan diskriminasi yang dialami para penyandang buta warna.

Bahkan para penderita sendiri seringkali menerima nasib mereka tanpa sadar bahwa mereka telah dirugikan oleh sistem.

Baca Juga: Akhirnya Damai! Konflik dengan Neo Historia Mereda, Ferry Irwandi Siap Bantu Selesaikan Masalah Lama

Pemicu utama aksi Ferry adalah klarifikasi terhadap konten yang dibuat Dr. Nicole, seorang koas yang aktif di media sosial.

Dalam salah satu kontennya, Dr. Nicole menjawab pertanyaan tentang apakah penderita buta warna bisa menjadi dokter dengan menyatakan "tidak bisa" dan menambahkan penjelasan yang keliru soal ketidakmampuan membedakan warna merah dan biru.

Koreksi Ferry mengungkap bahwa penderita buta warna parsial tetap mampu membedakan warna-warna tersebut dan bahwa kondisi buta warna total sangat langka, bahkan belum tercatat di Indonesia.

Dr. Nicole merespons dengan luar biasa: menerima koreksi, mengaku keliru, dan bahkan membuat konten lanjutan dengan informasi yang lebih akurat. Sikap inilah yang menurut Ferry patut diapresiasi dan menjadi harapan bagi masa depan dunia kesehatan Indonesia.

Ferry melanjutkan bahwa tes buta warna di Indonesia masih menggunakan metode kuno seperti Ishihara, yang bahkan sudah mulai ditinggalkan oleh banyak negara karena dianggap tidak lagi relevan.

Halaman:

Tags

Terkini