"Itu tas saya, saya taruh di situ karena mencari Juliana. Sama sekali bukan tas korban," tegasnya.
Ia menyebut bahwa lokasi tempat Juliana duduk hanya berbeda beberapa langkah dari titik jatuhnya. Barang yang tertinggal hanyalah tracking pole milik Juliana, yang satu jatuh 3 meter dari atas dan satu lagi lebih jauh di bawah.
Ali mengaku terpukul dengan berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Padahal ia merasa sudah melakukan tanggung jawabnya sebagai guide.
“Saya sempat down, bahkan sampai kecelakaan karena terus bolak-balik Senaru-Sembalun untuk memastikan kabar,” ungkapnya.
Ia juga mengaku telah dipanggil polisi untuk memberikan keterangan dan menjelaskan kronologi secara lengkap. Ali sempat bertemu langsung dengan ayah, saudara laki-laki, dan perempuan dari Juliana di Sembalun.
Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan permintaan maaf langsung dan menceritakan kronologi kejadian. Meski sempat menerima kemarahan, keluarga Juliana pada akhirnya menerima penjelasan dan barang-barang milik Juliana yang diserahkan oleh pihak organizer.
Dalam pertemuan itu, sang ayah sempat berkata dengan nada marah, “Kamu telah membunuh anak saya.”
Ali hanya diam dan menunduk sambil menjelaskan kronologi dan menyampaikan permohonan maaf.
“Saya benar-benar minta maaf atas semua kejadian ini. Kalau bisa kembali ke masa lalu, saya akan bertarung nyawa demi menyelamatkan Juliana,” ungkapnya.
Ali menyampaikan bahwa tidak ada surat resmi blacklist dari Balai Taman Nasional yang ia terima, dan statusnya masih menunggu proses investigasi. Ia pun menyatakan akan menerima segala konsekuensi, termasuk kemungkinan kehilangan pekerjaan sebagai guide.
“Saya ikhlas. Kalau harus jadi porter lagi pun saya jalani. Tapi semoga kejadian ini jadi pelajaran untuk semua pihak,” tutupnya.
Dengan penjelasan lengkap ini, Ali Mustofa berharap masyarakat bisa melihat peristiwa tersebut dari berbagai sisi dan tidak langsung menghakimi tanpa mengetahui kronologi dan fakta di lapangan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini