Dikutip dari thetimes.com, Italia juga memberlakukan larangan bekerja di luar ruangan pada jam puncak panas di 18 kota, termasuk Roma dan Milan.
Berdasarkan informasi dari kanal theguardian.com, akibat suhu ekstrem ini, kebakaran kecil terjadi di Skotlandia, wilayah Mitlands, dan utara Inggris.
Baca Juga: Satpol PP Bekasi Dapat Tekanan Saat Tertibkan Bantaran Sungai, Melisa Ungkap Realita di Lapangan
Rekor suhu ekstrem ini memecahkan catatan lama sejak abad ke-19. Keadaan ini mempertegas realitas perubahan iklim dan kebutuhan adaptasi.
Diperlukan adanya respon langkah atau kebijakan mitigasi yang lebih intensif, terutama di sektor publik.
Gelombang panas di Eropa awal Juli 2025 ini telah melampaui batas historis. Menyebabkan dampak luas terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan sistem sosial.
Penutupan sekolah, fasilitas publik, kampanye “oasis iklim”, hingga perhatian terhadap anak-anak dan lansia, menunjukkan bagaimana negara-negara Eropa meresponnya.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan kritis global.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini