SketsaNusantara.id - Belum usai duka kita terhadap meninggalnya Juliana Marins di Gunung Rinjani, dunia pendakian kembali berduka.
Seorang pendaki asal Jepang bernama Chiaki Inada, dilaporkan meninggal dunia sesaat setelah dievakuasi dari puncak Gunung Huascaran, Peru.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Metro TV, Chiaki Inada (40) mengalami hipotermia ekstrem sebelum meninggal dunia.
Inada bersama rekannya Saki Terada (36) ditemukan berada di ketinggian 6500 mdpl dalam kondisi hipotermia.
Gunung Huascaran diketahui memiliki cuaca ekstrim dengan keringgian diatas 6000 mdpl ini rupanya bisa minus hingga -30°Celsius.
Setelah di ketinggian 6500 yang sangat membeku dan alami hipotermia, Inada meninggak dunia dalam perjalanan saat naik helikopter kenuju rumah sakit terdekat. Kemudian rekannya, Saki Terada selamat dan sudah melewati masa kritisnya.
Gunung Huascaran sendiri terletak di pegunungan di Peru yang menjadi destinasi gunung favorit di seluruh dunia.
Asosiasi Pemandu Gunung Peru menyebutkan bahwa kedua pendaki asal Jepang itu tersesat karena kabut tebal yang tiba-tiba menyelimuti gunung.
Tim penyelamat Kepolisian Peru menerima panggilan darurat dari Inada dan rekannya melalui perangkat InReach mereka pada 24 Juni 2025, setelah mereka menghabiskan dua malam terdampar di ketinggian.
Salju tebal dan jarak pandang yang buruk semakin mempersulit situasi sehingga meskipun tim penyelamat berhasil mencapai lokasi dan mengevakuasi kedua pendaki, Chiaki Inada dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
Kematian Chiaki Inada kembali menjadi pengingat pahit tentang bahaya hipotermia, terutama bagi pendaki di gunung-gunung tinggi.