3. Proses Evakuasi Terkendala Cuaca dan Medan
Meski posisi Juliana sudah ditemukan, tim SAR masih belum bisa bergerak lantaran medan terjal dan berbahaya serta cuaca ekstrem di sekitar puncak Gunung Rinjani.
Meskipun helikopter dan tim profesional bisa dikerahkan, namun kabut tebal menghalagi pandangan dan cuaca ekstrem yang berubah-ubah menjadi penghambat proses evakuasi.
Lokasi yang curam, kabut tebal, dan angin kencang membuat evakuasi udara tak bisa dilakukan sembarangan. Hal ini memperlambat penyelamatan hingga melewati masa krusial 72 jam pertama.
4. Posisi Juliana Berpindah Lebih Dalam
Drone awalnya menangkap Juliana di posisi sekitar 400-500 meter di bawah jalur pendakian, dalam kondisi duduk atau tersangkut di tebing dekat jurang.
Namun, pada hari Minggu, 22 Juni 2025, posisi Juliana berpindah dan semakin turun ke kedalaman 600 meter. Namun, saat tim SAR mencoba turun ke lokasi tersebut, Juliana tidak ditemukan dan respons dengan suara hilang.
Kepala Basarnas mengonfirmasi bahwa tim awalnya menurunkan 7 orang ke sekitar 400 meter. Namun baru satu orang berhasil mencapai titik di 600 meter.
Perpindahan posisi Juliana Marins yang awalnya terdeteksi dari 400 meter ke 600 meter dikarenakan kondisi alam yang tidak stabil.
Gunung Rinjani memiliki lapisan pasir vulkanik dan kerikil yang sangat licin. Setelah terjatuh, tubuh Juliana kemungkinan tergelincir atau terkikis lebih dalam secara perlahan oleh gaya gravitasi.
Tekstur pasir vulkanik, tebing yang curam dan dinamika cuaca seperti angin kencang atau gempa kecil di sekitar puncak GUnung Rinjani memicu perpindahan tersebut yang membuat proses evakuasi makin sulit dilakukan.
5. Juliana Tak Berpengalaman Mendaki
Menariknya, keterangan dari anggota rombongan menyebut Juliana belum punya pengalaman mendaki gunung.