SketsaNusantara.id - Isu tambang nikel di Raja Ampat kembali memanas setelah tayangan debat antara Greenpeace dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla, dalam sebuah acara televisi.
Salah satu respons paling tajam datang dari Ferry Irwandi, CEO Malaka Project, lewat video YouTube yang diunggah 20 Juni 2025.
Dalam video tersebut, Ferry secara lugas membedah argumen-argumen yang disampaikan Ulil dan pihak pro-tambang.
Menurutnya, argumen itu tidak hanya lemah, tapi juga mengandung banyak logical fallacy atau sesat pikir yang bisa membingungkan publik.
“Kalau tidak diluruskan, ini bisa berbahaya,” ujar Ferry.
Ferry juga menegaskan bahwa dirinya bukan aktivis lingkungan, tetapi anti kebodohan.
“Gua bukan anti industri, bukan aktivis lingkungan, gua cuma anti kebodohan,” lanjutnya.
Lewat kritiknya, Ferry tidak sekadar menyerang pribadi, tapi membongkar cara berpikir yang menurutnya berbahaya jika dijadikan dasar kebijakan.
Berikut ini 4 sesat pikir yang digunakan Ulil dan pihak pro tambang dalam membela pertambangan nikel di kawasan konservasi Raja Ampat.
Baca Juga: IUP Dicabut, Kini Polri Mengusut 4 Perusahaan Tambang di Raja Ampat Ini dan Terancam Pidana
1. Straw Man Fallacy
Ferry menyebut istilah “wahabi lingkungan” yang dilontarkan Ulil sebagai bentuk straw man fallacy, yaitu menyederhanakan posisi lawan agar mudah diserang.