news

Waspada! Penipuan dengan Metode Hipnotis Ternyata Bisa Dilakukan Melalui Sambungan Telepon, Begini Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya

Selasa, 10 Juni 2025 | 11:30 WIB
Ilustrasi - aksi penipuan menggunakan metode hipnotis yang dilakukan melalui sambungan telepon (pexels/pixabay)

"Terkadang orang yang terlalu fokus atau berada pada konsentrasi tinggi bisa dialihkan dan menjadi sasaran empuk bahkan tidak sadar jadi korban gendam, meski mereka sudah diingatkan," imbuhnya.

"Mungkin saat menelepon sedang dalam kondisi blank (pikiran kosong) sehingga mudah bagi oknum untuk menghipnotis dan mengendalikan dari jarak jauh," tuturnya.

Ratna Yunita, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta juga menyebutkan ciri-ciri seseorang yang bisa dialihkan perhatiannya melalui telepon.

Baca Juga: Detik-Detik Agen BRILink Gagalkan Aksi Penipuan, Pelaku Dipermalukan

"Mungkin saat menelepon orang tersebut sedang dalam kondisi blank (pikiran kosong) sehingga mudah bagi oknum untuk menguasai pikirannya dan mengendalikan dari jarak jauh," katanya.

"Kondisi ini juga bisa terjadi biasanya kalau ada orang yang terlalu fokus hingga berada pada konsentrasi yang berada di gelombang yang bisa dialihkan," imbuhnya.

Ratna menambahkan bahwa, seseorang yang yang sering melamun dan tidak fokus juga bisa jadi sasaran empuk pelaku aksi gendam.

"Tandanya, jika seseorang menjawab dengan nada datar atau tidak fokus, ketika sudah menemukan momen yang tepat pelaku bisa mengambil alih," tuturnya.

"Jika sudah seperti itu, biasanya orang yang nge-blank atau terlalu fokus pada omongan seseorang, akan lebih mudah masuk untuk memberikan sugesti-sugesti bahkan meski melalui telepon," ungkapnya.

Baca Juga: Terekam CCTV! Waspada 2 WNA Pelaku Penipuan Asal Afrika Beraksi di Yogyakarta Menggunakan Modus Tukar Uang, Polisi Gercep Turun Tangan

Sementara itu, Agus juga menyebutkan cara pelaku melakukan aksi gendam melalui telepon. Pelaku biasanya mengalihkan perhatian korban dengan cara persuasif yang bisa berlangsung selama beberapa menit bahkan hingga satu jam sekalipun.

Pelaku biasanya menyampaikan kabar yang memicu emosi kuat, seperti kabar gembira (misalnya, memenangkan undian) atau kabar buruk (misalnya, anggota keluarga kecelakaan).

"Biasanya pelaku gendam ini mengalihkan perhatian dengan mengajak ngobrol korbannya secara intens. Misal kalau ada orang yang mengalami masalah ekonomi, tiba-tiba dia telepon diimingi tawaran hadiah mernarik sehingga korban mudah terjebak dalam perangkap pelaku," ujarnya.

Emosi yang memuncak ini dapat membuat korban kehilangan kewaspadaan, sehingga lebih mudah dipengaruhi.

Dalam sambungan telepon, pelaku sering menggunakan teknik sugesti verbal yang kuat, seperti nada suara yang meyakinkan atau perintah berulang. Tujuannya untuk mengarahkan pikiran korban sehingga mereka mau melakukan sesuatu yang diinstruksikan pelaku.

Halaman:

Tags

Terkini