Namun, saat absensi pagi dilakukan menjelang salat Subuh, Badrus tidak ditemukan di kamar maupun di bagian lain kapal.
Pencarian menyeluruh di kapal tidak membuahkan hasil. Pihak kapal melaporkan kejadian ini ke Syahbandar Pelabuhan Juwana pada hari Rabu, 18 Mei 2025 dan juga disebarkan ke kapal-kapal di sekitar perairan Masalembu.
Kabar hilangnya Badrus baru disampaikan kepada keluarga pada Senin, 19 Mei 2025, oleh pihak sekolah, didampingi perangkat desa.
Ibunda Badrus, Nurhasanah, mengungkapkan bahwa putranya sempat curhat menyampaikan ketidaknyamanan karena mendapat perlakuan kurang baik dari dua rekan satu kelompoknya, termasuk dugaan perundungan.
"Badrus bilang takut dan merasa tidak nyaman karena sering di-bully," ungkap Nurhasanah dengan suara bergetar.
Mulyadi, Ayah Badrus, juga menyampaikan harapannya agar putra sulungnya segera ditemukan. Ia meminta kepastian tentang keberadaan Badrus apakah dia masih hidup atau tidak.
"Kami butuh kepastian. Apapun keadaannya, kami ingin melihat anak kami apalagi ini sudah jalan 2 minggu dia menghilang," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Hingga saat ini, pihak sekolah masih terus berusaha dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mendukung pencarian anak didiknya.
"Ini duka bagi kami semua. Badrus masih belum diketahui keberadaannya dan kami sudah melakukan pencarian menyeluruh di kapal tapi hasilnya dan belum ada titik terang," ucap Kuncoro Basuki, Kepala SMK Kelautan Puger, dikutip dari akun Instagram @aslijembermat.
Keberadaan Badrus masih misterius. Pihak kapal telah melakukan pencarian selama 7 hari sesuai standar operasional, berkoordinasi dengan Satpolairud dan Basarnas, namun belum membuahkan hasil.
Tim Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Jember mendampingi keluarga menuju ke Pelabuhan Juwana untuk menuntut kejelasan.
Mereka bertemu dengan Direktur PT Pancuran Samudra Nusantara, Wakapolairud Pelabuhan Juwana, dan Ketua Asosiasi Nelayan Juwana.