SketsaNusantara.id - Sebuah video di media sosial Instagram ramai jadi pembahasan di kalangan pendaki dan pecinta alam.
Dalam video tersebut, seorang pendaki menceritakan pengalamannya mendirikan tenda di gunung, namun kemudian diminta pindah oleh pihak yang mengklaim bahwa lahan tersebut sudah “dibooking” oleh peserta open trip.
Video kemudian memancing diskusi hangat di kalangan para pendaki terkait fenomena “booking” lahan di gunung.
Baca Juga: Momen Hari Lahir Pancasila, Mahfud MD Singgung Soal Ketimpangan dan Kemiskinan Sosial di Indonesia
Isu ini mendapat perhatian publik, tidak terkecuali dari musisi yang juga aktif mendaki, Fiersa Besari.
Fiersa memberi tanggapannya berdasarkan pengalamannya naik gunung selama ini seperti yang dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagramnya pada 3 Juni 2025.
Ia menyebutkan bahwa dalam banyak kasus, porter dari operator tur memang berjalan terlebih dahulu untuk mencapai campground dan mendirikan tenda untuk peserta open trip.
Namun menurutnya yang menjadi persoalan adalah ketika jumlah peserta terlalu banyak hingga menguasai lahan secara berlebihan.
Ia juga menilai bahwa insiden pengusiran terhadap pendaki mandiri yang sudah terlebih dahulu mendirikan tenda merupakan tindakan keliru.
Tindakan tersebut menurut Fiersa dan timnya sebagai penghilangan akses terhadap perlindungan dasar di lingkungan ekstrim seperti gunung.
Di mana setiap orang rentan terhadap kondisi seperti hipotermia, terkena badai, dan lain sebagainya.
Menurutnya, permasalahan ini mungkin terletak pada cara briefing dari pihak tour operator ke porter mereka.
Selain itu, Fiersa juga mengingatkan bahwa tidak semua peserta open trip bisa disamakan dan seharusnya kejadian ini tidak menjadi alasan untuk merendahkan pilihan mereka.