Baca Juga: 4 Lokasi Sholat Idul Adha 2025 di Probolinggo, Ada Masjid Bersejarah Berusia Ratusan Tahun!
Ia menyampaikan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan dan kekuatan fisik untuk mendaki secara mandiri.
Namun mereka tetap memiliki keinginan untuk menikmati keindahan gunung.
Fiersa juga menambahkan bahwa keikutsertaan dalam open trip bisa menjadi salah satu upaya mitigasi risiko di gunung.
Baca Juga: Audiensi FKBS dengan TP3D: Usulkan Pelestarian Cagar Budaya di Kabupaten Jember
Terlebih ada beberapa jalur pendakian yang memang mewajibkan menggunakan jasa tour operator, termasuk di gunung tertinggi di Indonesia.
Fiersa juga mengajak untuk meninjau ulang sistem yang sudah ada.
Bila kapasitas lahan di pos pendakian terbatas, maka seharusnya ada regulasi yang mencegah penguasaan lahan secara sepihak oleh tour operator.
“Kalau misalkan posnya terbatas harusnya kan ada regulasi nggak semua lahannya dicaplok oleh tour operator harusnya ada hak untuk pendaki (mandiri juga),” ujar Fiersa dalam keterangannya.
Atas kejadian tersebut, Fiersa Besari mengungkapkan perlunya perbaikan secara menyeluruh dari berbagai pihak.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Prabowo Subianto Tuding LSM Dibiayai Asing, Dandhy Laksono Balik Soroti Bantuan USAID ke Pemerintah: Info A1
6 Lokasi Sholat Idul Adha 2025 di Pasuruan, Mulai dari Stadion hingga Pelataran Masjid 'Payung Madinah' yang Syahdu, Cocok Didatangi Bareng Keluarga
Kebakaran Rumah 2 Lantai di Depan SMA Muhammadiyah 3 Jember, 1 Orang Dikabarkan Meninggal Dunia
UMKM Kopi Binaan BRI Bikin Bangga: Tembus Pameran Kopi Dunia di AS dan Catat Potensi Transaksi Hampir Rp15 Miliar!
Pemerintah Berikan Paket Stimulus, Pekerja dengan Gaji Kurang dari Rp 3,5 Juta dapat Bantuan Rp300.000 Sebulan