2. Gunakan Alat Tegak Lurus
Siapkan alat yang bisa berdiri tegak lurus di permukaan datar, seperti bandul, tiang, atau dinding bangunan. Pastikan alat ini tidak miring agar bayangannya akurat.
3. Lakukan Kalibrasi
Lakukan proses kalibrasi sejak 5 menit sebelum dan sesudah pukul 16:18 WIB (untuk Indonesia Barat) atau 17:18 WITA (untuk Indonesia bagian Tengah).
4. Perhatikan Arah Bayangan Waktu Puncak
Mulai amati bayangan alat tersebut 5 menit sebelum pukul 16.18 WIB (atau 17.18 WITA) hingga 5 menit setelahnya. Pada waktu puncak, bayangan alat akan menunjuk langsung ke arah Ka'bah.
Saat waktu puncak, tarik garis lurus dari ujung bayangan hingga ke posisi alat. Garis inilah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi Matahari berada tepat di atas Ka'bah. Catat arah ini untuk digunakan sebagai referensi.
5. Kondisi Bisa Terulang Tiap Tahun
Fenomena ini akan terulang pada 26-30 Mei dan 14-18 Juli setiap tahun, dengan puncak pada 28 Mei 2025 dan 16 Juli 2025. Manfaatkan momen ini untuk memastikan arah kiblat tetap akurat.
Setiap tahun, umat Islam memiliki kesempatan langka untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat melalui fenomena alam yang dikenal sebagai "Istiwa A'zam" atau "Rashdul Kiblat".
Pada saat ini, posisi Matahari berada tepat di atas Ka'bah di Mekkah, sehingga bayangan benda tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat yang tepat.
Di Indonesia, fenomena ini membantu memastikan bahwa arah sholat tetap sesuai dengan ketentuan agama Islam.
Siapapun bisa memeriksa dan meluruskan kembali arah kiblat secara sederhana dengan memanfaatkan bayangan Matahari saat berada tepat di atas Ka'bah meski tanpa perlu alat bantu canggih sekalipun.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini