news

Resto Ayam Goreng Widuran Solo Punya Siapa? Heboh Kontroversi Rumah Makan Legendaris yang Berdiri Sejak 1973, Ternyata Menjual Produk Non Halal

Senin, 26 Mei 2025 | 07:00 WIB
Potret resto ayam goreng Widuran Solo yang ternyata menjual produk kremesan non halal karena digoreng menggunakan minyak babi (Instagram/ayamgorengwiduransolo)

Salah satu karyawan menjelaskan bahwa menu kremesan menjadikan resto ayam goreng Widuran berstatus non-halal karena penggunaan minyak babi dalam proses penggorengan, sedangkan ayamnya halal.

Ia juga menyebutkan bahwa mayoritas pelanggan restoran sejak awal berdiri adalah non-Muslim, sehingga isu ini jarang menjadi perhatian sebelum menjadi viral.

Menjadi perbincangan hangat di media sosial, tak banyak warganet yang penasaran restoran ayam goreng ini, termasuk pemilik atau manajemen toko yang tak luput jadi sorotan publik.

Baca Juga: Viral Gibran Rakabuming Raka dan Keluarga Plesiran ke Singapura Saat Lebaran, Tulisan Non Halal Jadi Sorotan

Lantas, siapa pemilik resto ayam goreng Widuran? Berdasarkan penelusuran SketsaNusantara.id, diketahui restoran ini dikelola seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Indra.

Ayam Goreng Widuran dikenal dengan ayam kampung goreng berbumbu rempah tradisional dan disajikan dengan kremesan renyah yang menjadi daya tarik utama.

Menurut informasi dari berbagai sumber, Indra telah lama mengelola restoran ini, meneruskan bisnis keluarganya. Ia mengelola toko elama puluhan tahun, menjaga cita rasa khas ayam goreng dengan metode memasak tradisional tanpa pengawet.

Menu andalannya meliputi ayam goreng utuh yang dibanderol dengan harga hingga Rp130.000 per ekor, ayam goreng potongan paha/dada seharga Rp33.000 dan kremesan (non halal) seharga Rp25.000.

Baca Juga: Restoran Non Halal Legendaris Sejak Indonesia Baru Merdeka, Ala Rumahan Peranakan Lawas di Muntilan

Dalam beberapa foto yang beredar, tampak rak makanan di resto ayam goreng Widuran tertulis label non-halal yang ditujukan untuk menu kremesan.

Restoran legendaris ini cukup terkenal di Solo dan juga memiliki cabang di Bali yang menawarkan menu boks serta frozen food untuk menjangkau pelanggan lebih luas.

Setelah restoran ini viral karena menjual produk non-halal, Dinas Perdagangan Kota Solo menyatakan akan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Kepala Kemenag Surakarta menegaskan pentingnya transparansi status kehalalan produk demi melindungi konsumen terutama bagi umat muslim.

Meski menu non-halal ini telah diberi label, Ayam Goreng Widuran tetap ramai dikunjungi, terutama oleh pelanggan non-Muslim.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini