SketsaNusantara.id - Ade Armando kembali ramai jadi sorotan publik setelah pernyataannya yang menyebut Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden (wapres) RI terbaik sepanjang sejarah Indonesia.
Pernyataan ini menuai kritik pedas dari warganet yang dianggap tak sesuai realita, mengingat Gibran belum menorehkan prestasi signifikan selama menjabat jadi wapres.
Apalagi putra sulung Jokowi itu kerap menuai kontroversi termasuk jejak digitalnya di akun Kaskus "Fufufafa" yang masih ramai jadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir.
Lantas, siapa sebenarnya Ade Armando? Dihimpun SketsaNusantara.id dari akun Instagram @adearmando_pofficial dan berbagai sumber, berikut profil dan rekam jejaknya di dunia politik yang ternyata dikenal sebagai salah satu politisi yang sering menuai kontroversi.
Ade Armando merupakan seorang akademisi dan politikus dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kelahiran 24 September 1961.
Ia lahir di Bandung dari keluarga Minangkabau. Ia adalah anak bungsu dari Mayor Jus Gani, seorang diplomat yang terpaksa turun jabatan pasca-runtuhnya pemerintahan Soekarno.
Ade menempuh pendidikan di SD Banjarsari I Bandung, SMP Negeri 2 Bogor, dan SMA Negeri 2 Bogor, sebelum akhirnya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI).
Baca Juga: Jokowi Yakin Menang Jadi Ketua Umum PSI Lawan Anak Sendiri: Susunan Pengurus Sudah Jadi
Awalnya Ade Armando bercita-cita ingin jadi diplomat. Namun, ia kemudian beralih ke jurusan ilmu komunikasi karena kesulitan di mata kuliah politik.
Karier akademisnya dimulai sebagai dosen tetap pegawai negeri sipil (PNS) di FISIP UI sejak tahun 1990. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Prisma pada tahun 1988-1989 dan redaktur di Republika pada tahun 1993, tapi keluar karena tekanan politik Orde Baru.
Perjalanan politik Ade Armando dimulai ketika ia bergabung dengan PSI, partai yang dikenal berorientasi pada kaum muda yang bertujuan menarik suara milenial melalui kampanye digital.
Ade mengajukan pensiun dini dari UI bahkan rela melepas statusnya sebagai PNS, dan memutuskan jadi kader PSI.