Wahyu juga mengungkapkan bahwa tim pemusnah telah melakukan pengecekan untuk memastikan personel dan lokasi penghancuran steril dan aman.
Namun 9 korban jiwa yang berasal dari warga sipil membuat publik khsususnya pengguna media sosial mempertanyakan kembali SOP penghancuran amunisi kadaluarsa milik TNI AD.
Apalagi baru-baru ini juga beredar video yang memperlihatkan sejumlah warga sipil tengah melucuti amunisi milik TNI AD.
Narasi yang beredar di media sosial, para warga sipil yang menjadi korban merupakan bagian dari masyarakat yang mendatangi lokasi pemusnahan untuk mengambil sisa-sisa tembaga, besi dan kuningan.
Namun hal tersebut dibantah oleh anak salah seorang korban.
“Bapak saya bukan mulung! Bapak saya di situ kerja sama tentara,” ungkap anak tersebut di hadapan Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan, bahwa mendiang ayahnya telah bekerja bersama tentara sejak ia masih sekolah.
Keluarga korban juga dengan tegas membantah narasi yang menyebutkan warga sipil yang tewas melawan TNI.
“Banyak orang yang bilang bapak saya ke situ nyelonong, ngelawan TNI. Itu Nggak!,” tegasnya.
Meski pihak keluarga mengaku korban tengah bekerja pada saat ledakan terjadi, namun pihak TNI AD belum memberikan pernyataan apapun terkait hal tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!