Perjalanan pendidikan Suharyo menunjukkan dedikasinya pada teologi dan filsafat. Ia memulai pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan, Magelang, pada 1961.
Pada tahun 1971, Suharyo meraih gelar Sarjana Muda bidang Filsafat/Teologi dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, serta mendapat gelar Sarjana Filsafat/Teologi pada tahun 1976.
Suharyo ditahbiskan menjadi imam pada 26 Januari 1976 di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus, Yogyakarta.
Atas arahan Justinus Kardinal Darmojuwono, Suharyo melanjutkan studi di Roma, Italia, dan menyelesaikan Doktor Teologi Biblis di Universitas Urbaniana pada tahun 1981 dengan disertasi tentang implikasi eklesiologis narasi Perjamuan Terakhir dalam Injil Lukas.
Setelah pulang dari Roma, Mgr. Suharyo jadi pengajar di berbagai institusi, termasuk Sekolah Tinggi Filsafat Kteketik Pradnyawidya, Yogyakarta dan menjadi Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi di IKIP Sanata Dharma.
Tak hanya itu, Suharyo juga pernah jadi Dekan Fakultas Teologi dan Direktur Program Pascasarjana di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Serta jadi pengajar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta dan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
3. Mengikuti Jejak Saudaranya jadi Pastor
Komitmen religius keluarga Igantius Suharyo sangat kuat. Ia Suharyo bukan satu-satunya anggota keluarganya yang memilih jalan untuk mengabdi pada Tuhan.
Mengikuti jejak kakaknya yang menjadi biarawan dan dua adik perempuannya yang menjadi biarawati, Suharyo memutuskan menjadi imam setelah mendapat pencerahan dari Romo Theodorus Holthuyzen SJ.
Keputusannya untuk masuk seminari pada usia 11 tahun menandai awal perjalanan panjangnya dalam pelayanan gereja, yang kemudian membawanya ke posisi kardinal.
Baca Juga: Misi Duka ke Vatikan: Jokowi dan Tokoh Nasional Diutus Prabowo Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus
4. Semboyan dan Gaya Kepemimpinan Sederhana
Sebagai Uskup, Suharyo mengusung semboyan "Serviens Domino Cum Omni Humilitate" yang berarti "Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati".