Mengutip dari situs Badan Kepegawaian Negara, Re-entry merupakan program yang berfokus pada proses adaptasi kembali individu ke lingkungan kerja atau masyarakat setelah menjalani pendidikan atau pelatihan.
Sementara itu, retraining menitikberatkan pada pengenalan pengetahuan dan keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Anies menekankan bahwa lebih dari 50 juta orang dewasa di Indonesia belum memiliki kualifikasi kerja yang memadai, bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena sistem pendidikan dulu tidak mendukung mereka untuk melanjutkan studi.
Dalam utasnya, Anies memberikan contoh konkret jika program pelatihan ulang relevan dengan kebutuhan nyata sesuai dengan perkembangan zaman.
"Petani dapat dilatih mengelola sensor irigasi, penjahit belajar desain pola digital, dan pedagang kaki lima diajarkan tentang higienitas serta promosi melalui media sosial," tulisnya.
Pendidikan ulang ini, menurutnya bukan sekadar soal memberikan keterampilan, tetapi juga tentang memberikan pemikiran dan arah hidup baru.
Ia juga mengusulkan penguatan program seperti Paket A, B, C, dan Universitas Terbuka sebagai jalur utama re-entry, bukan sekadar alternatif darurat hanya untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah.
"Kita perlu jadikan pendidikan ulang orang dewasa sebagai budaya dan agenda nasional. Pemerintah daerah bisa buka pusat belajar di kampung-kampung," ucap Anies.
"Dunia usaha ikut merancang pelatihan. Alumni program Paket C bisa jadi mentor. Belajar kembali bukan hal memalukan, tapi membanggakan," imbuhnya.
"Belajar tak boleh dibatasi usia. Jika ada yg ingin belajar di usia 15, 35 ataupun 55, maka negara harus siap menyediakan jalannya. Paket A, B, C, dan Universitas Terbuka harus diperkuat. Re-entry harus jadi jalur utama, bukan jalur darurat," tandasnya.
Selain itu, Anies menyoroti pentingnya pengakuan pengalaman kerja sebagai bagian dari pendidikan melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Seorang tukang bangunan, juru masak, atau perawat lansia, misalnya, dapat memperoleh sertifikasi resmi atas keahlian yang mereka miliki dari praktik, sehingga meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.