news

Siapa Marsinah? Kisah Buruh Perempuan yang Menjadi Ikon Perlawanan

Kamis, 1 Mei 2025 | 21:58 WIB
Presiden Prabowo Subianto janji akan hapuskan outsourcing, berikan perlindungan bagi para pekerja hingga usulkan Marsinah jadi Pahlawan Nasional pada Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2025 (Instagram/presidenrepublikindonesia)

Tak satu pun pelaku utama berhasil diadili. Nama Marsinah tetap menjadi pengingat akan kegagalan sistem hukum dalam melindungi warga negara dari penyalahgunaan kekuasaan, terutama dalam konteks perjuangan buruh.

Baca Juga: 6 Pernyataan Prabowo pada Peringatan Hari Buruh 2025: Janji Hapus Outsourcing, Bentuk Satgas PHK hingga Dukung Marsinah Jadi Pahlawan Nasional

Meski telah tiada, semangat Marsinah terus hidup di hati para buruh dan aktivis. Setiap tahun, pada bulan Mei, berbagai elemen masyarakat memperingati hari kematiannya dengan aksi damai, diskusi publik, hingga pentas seni yang mengangkat perjuangannya.

Ia menjadi ikon perjuangan hak buruh, khususnya perempuan, yang kerap mengalami diskriminasi dan kekerasan di tempat kerja.

Marsinah juga memberi inspirasi bagi gerakan buruh modern untuk lebih sadar akan pentingnya organisasi, kesetaraan, dan perlindungan hukum.

Baca Juga: 6 Tuntutan dalam Aksi May Day Memperingati Hari Buruh 1 Mei 2025: Hapus Outsourcing, Pembentukan Satgas PHK hingga Perlindungan Pekerja Indonesia

Dalam era digital saat ini, perjuangan buruh sudah tidak hanya terjadi di jalanan, tapi juga di ruang-ruang advokasi daring. Namun semangat dasar yang ditunjukkan Marsinah, keberanian bersuara dan membela hak, masih menjadi fondasi utama dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Peringatan terhadap sosok Marsinah tidak hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang refleksi atas kondisi buruh hari ini.

Apakah hak-hak pekerja sudah terpenuhi? Apakah kekerasan dan intimidasi terhadap buruh telah benar-benar berhenti? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting, terutama di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompleks, termasuk praktik outsourcing, kontrak kerja jangka pendek, dan tekanan produktivitas tinggi tanpa perlindungan yang memadai.

Marsinah mengajarkan bahwa perjuangan buruh bukanlah tindakan melawan negara, melainkan upaya untuk memperbaiki sistem agar lebih adil. Ia bukan pahlawan yang diangkat negara, tetapi pahlawan yang lahir dari rakyat, untuk rakyat. Namanya akan terus dikenang, bukan hanya sebagai martir, tetapi sebagai simbol perlawanan yang tak pernah padam.

Melalui kisah Marsinah, generasi muda diingatkan untuk tidak tinggal diam ketika melihat ketidakadilan. Ia adalah suara yang pernah dibungkam, namun kini menjadi gema abadi perjuangan hak asasi manusia dan keadilan sosial di Indonesia.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini