Minggu, 19 Juli 2026

Hari Buruh Bukan Perayaan, tapi Peringatan: Memaknai Perjuangan Kelas Pekerja Melawan Penindasan

Photo Author
Dinzha Fairrana Atsir, Sketsa Nusantara
- Kamis, 1 Mei 2025 | 13:00 WIB
 Foto seorang buruh pemulung yang mengayuh gerobaknya demi mencari nafkah. (Pixabay/harpenz)
Foto seorang buruh pemulung yang mengayuh gerobaknya demi mencari nafkah. (Pixabay/harpenz)

SketsaNusantara.com - Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei disambut sebagai waktu bersantai dan libur karena ditetapkan sebagai “tanggal merah”.

Namun, Hari Buruh lebih dari sekadar cuti nasional. Hari yang disebut juga sebagai May Day itu diperingati pertama kali di Amerika Serikat untuk menghormati 400.000 buruh yang mempertaruhkan nyawa memperjuangkan hak-hak para pekerja.

Pun di Indonesia, Hari Buruh menyimpan makna mendalam secara ekonomi maupun sosial.

Baca Juga: May Day 2025 di Monas: Ribuan Buruh Tumpah Ruah, Presiden Prabowo Hadir Dengarkan Aspirasi

Hari Buruh bukan waktu bersenang-senang, melainkan momentum penting bagi kelas pekerja untuk menyuarakan hak mereka.

Mari ulik sepak terjang para buruh dalam memperjuangkan kesejahteraan pekerja di bawah ini, khususnya di negeri Indonesia.

Menggali Sejarah Hari Buruh di Dunia dan Indonesia

Dilansir dari Marxis.org, Hari Buruh lahir sekitar akhir abad 19 di Amerika Serikat sebagai simbol penghormatan kepada kelompok buruh yang telah mengikhtiarkan kesejahteraan pekerja.

Baca Juga: Pemkab Jember Jalin Kekompakan Buruh dan Pengusaha Lewat Jalan Sehat

Kelompok tersebut menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang manusiawi, hingga keamanan di tempat kerja.

Walaupun perjuangan para pekerja sebetulnya berlangsung jauh sebelum abad 19, peristiwa signifikan yang mendorong skala gerakan buruh menjadi lebih besar terjadi pada tanggal 1 Mei 1886.

Pada saat itu, ribuan buruh turun ke jalan Chicago untuk melakukan unjuk rasa demi menagih waktu kerja selama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu.

Baca Juga: 5 Fakta Hari Buruh 1 Mei di Indonesia, Sempat Dilarang saat Orde Baru hingga Hubungannya dengan Organisasi Sayap PKI

Aksi itu dianggap sebagai momen berjaya bagi kelas pekerja karena relevansinya secara politik, serta bagaimana ia juga menginspirasi aksi-aksi mogok penting lainnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X