Penyair yang tinggal di Yogyakarta ini sering menggunakan benda sehari-hari dalam puisinya untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang jenaka, sebuah gaya yang dianggap inovatif oleh banyak kritikus sastra.
Hasif Amini dari Poetry International menyebut tulisan Jokpin sebagai karya salah satu penyair Indonesia yang paling banyak dibaca, dengan "perpaduan narasi segar, ironi, dan refleksi diri".
Salah seorang editor bernama Mirna Yulistianti, bahkan menyejajarkan Jokpin dengan legenda puisi Indonesia, Sapardi Djoko Damono, karena pengaruhnya yang besar di dunia sastra Tanah Air.
Karier Joko Pinurbo di dunia sastra dimulai sejak 1980-an, ketika ia aktif menulis dan menerbitkan puisi di berbagai media.
Kumpulan puisi pertamanya bertajuk "Celana" yang diterbitkan pada 1999, langsung mencuri perhatian karena gaya bahasanya lugas dengan gaya metafora yang jenaka tapi menyentuh hati.
Buku ini memenangkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama dan menjadi salah satu karya paling ikoniknya.
Selain "Celana", karya-karya lain seperti Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Kamus Kecil (2014), dan Kekasihku (2011) juga mendapat tempat di hati pembaca.
Puisi-puisinya sering kali mengangkat tema cinta, kehidupan sehari-hari, dan kritik sosial, disampaikan dengan humor yang membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Salah satu puisi yang paling dikenang adalah "Celana" dari buku dengan judul yang sama. Puisi ini menggambarkan celana sebagai simbol perjalanan hidup, penuh dengan ironi dan kepekaan terhadap realitas sosial.
Baris seperti "Celana itu akhirnya menjadi tua dan robek, tapi ia tetap setia menutupi auratku" menjadi salah satu kutipan favorit yang banyak dibagikan warganet di X pada peringatan Hari Puisi Nasional 2025.
Selain itu, puisi "Baju Terakhir" juga sering disebut-sebut karena kepekaannya terhadap kematian dan kehilangan, tema yang terasa personal bagi Jokpin menjelang akhir hidupnya.
Semasa hidupnya Joko Pinurbo telah menulis ratusan puisi dan karyanya mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, hingga mendapat Anugerah Kebudayaan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2019 lalu.
Ia juga pernah diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten di Belanda dan diundang pada Forum Puisi Indonesia di Hamburg, Jerman tahun 2002 lalu.