Kali ini, ia realisasikan untuk pengadaan alat transportasi untuk mendukung kegiatan usahanya. Selama ini, mulai dari pencarian bahan baku dan mengantar pesanan hingga luar kota, ia memakai sepeda motor.
Baca Juga: Kisah Sukses Peternak Ikan Air Tawar Bermitra dengan BRI
“Saya gunakan untuk membeli kendaraan roda empat dan perbaikan sarana produksi. Mobilisasi dalam menjalankan usaha selama ini hanya menggunakan sepeda motor. Kalau pesanan pas lagi rame, saya tambahi keranjang agar bisa memuat barang lebih banyak. Itu pun kadang membonceng istri saya. Selain muatannya melebihi kapasitas, saya memikirkan keamanan saat berkendara di jalan,” terangnya.
Manfaatkan PLTS
Pengembangan pun diperlebar. Ia menekan konsumsi penggunaan listrik yang cukup mahal dengan memasang alat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). “Alat produksi yang saya gunakan selama ini sangat bergantung adanya listrik. Anggaran untuk kebutuhan listrik setiap bulannya terhitung mahal.
Penggunaan alat produksi selama ini menggunakan energi listrik yang bersumber dari listrik rumah (PLN),” jelas Yanto.
Yanto mengaku, dengan memakai PLTS tersebut, ia dapat menekan biaya hingga 75 persen. Alat produksi yang dia miliki seperti pengering, oven, spinner, penggiling, alat perajang, alat pemarut semuanya menggunakan energi listrik.
“Dengan menggunakan PLTS, saya dapat menghemat biaya listrik sampai 75 persen,” tandasnya.
Mengenai produk unggulan UMKM mamin yang dikelolanya, Yanto merasakan keuntungan berlebih dari kue tradisional carang mas (ceker remes). Di satu tempat, ia dapat melayani pemesanan hingga 10 kotak dalam seminggu kue berbahan ketela rambat tersebut. “Seminggu sekali biasanya saya dapat pesanan 1000 kotak dari toko yang ada di Masjid Cheng Ho Pandaan, Pasuruhan,” kata dia.
Untuk pemasaran di Jombang, terutama di pusat penjualan oleh-oleh di kompleks makam Gus Dur, Yanto mengirim carang mas 100-150 kotak dalam sepekan.
Selain dari sejumlah toko, Yanto kadangkala juga melayani dari pemerintah desa yang ada di Kecamatan Wonosalam. Selain sebagai seorang guru, istri Suyanto merupakan sekretaris PKK Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam.
“Selain guru TK, istri saya kebetulan sebagai pengurus PKK. Jadi kalau setiap ada pertemuan di kantor kecamatan yang melibatkan ibu-ibu PKK, istri saya selalu membawa produk Asri Food. Selain memperkenalkan Asri Food, barang yang dibawa seringkali terjual,” kata dia.
Baca Juga: BRI Bawa UMKM Indonesia ke Amerika, Potensi Ekspor Capai Rp28 M di Natural Product Expo West
Ia juga tidak jarang melayani pemesanan dari lembaga pendidikan yang merupakan kolega dari istrinya. Untuk memasarkan produknya, Yanto dan istrinya juga sering mengikuti pameran.
Omset yang ia terima setiap bulannya juga merangkak naik. “Omset yang saya terima per bulan pernah tembus diangka Rp 13 juta. Kalau profit, rata-rata 20 sampai 30 persen dari nilai omset. Itu belum terbantu penggunaan PLTS. Sesudah saya memasang PLTS, tentu keuntungan bersih yang saya terima bisa bertambah,” tandas dia.
“BRI memang pilihan solutif bagi kami untuk mempertahankan UMKM. Selain mudah diakses, saya merasakan ada prioritas bagi pelaku UMKM,” tambahnya.
Menjadi pemateri UMKM di sejumlah lembaga
Atas ketekunannya dalam mengembangkan UMKM nya itu, berbagai undangan dari lembaga pemerintahan seringkali diterima Suyanto sebagai narasumber.