Menurutnya, Program PPDS Anestesi pada umumnya menempuh waktu delapan semester, sedangkan Zara hanya menjalani lima semester.
Budi pun menegaskan bahwa pihaknya akan meminta Undip untuk menunda proses kelulusan selama proses hukum masih berlangsung.
Selain itu, pihaknya juga akan memastikan senior korban yang menjadi tersangka bullying agar selama proses pengadilan masih berjalan tidak diberikan keistimewaan lulus lebih cepat.
Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa tidak semestinya proses akademik berjalan seperti biasa, apalagi dipercepat, saat seorang mahasiswa terlibat kasus serius seperti dugaan perundungan berat.
“Kita ingin pastikan bahwa selama proses pengadilan masih berjalan, bagi seniornya yang diduga melakukan bullying ini memang sebaiknya jangan (diluluskan) kemudian dilakukan percepatan-percepatan yang meluluskan dia sebelum waktunya itu," tegasnya.
Soal fakta ini, netizen pun bereaksi keras hingga menyebut Zara memiliki backingan yang cukup kuat di belakangnya.
“Buset, se-powerful apa ini backingannya ya?,” tulis akun @ethereaxxx.
“Nanti kita bantu googling dia praktik dimana biar gak laku. TERUS PAS WISUDA TOLONG SIRAM AIR KE MUKANYA," tulis akun @yhnulxxx.
“Gilaa, anaknya siapa sih min, kampus ampe takluk begitu,” tanya akun @antarahani_hxxx.
“Undip ini ternyata busuk ya FK nya. Ada kejadian bullying sampek korbannya mati, denial.
Ada anak koas korban kejahatan seksual dari anak residen, anak koasnya diancem disuruh tutup mulut,” timpal akun @becengaparxxx.
***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI