SketsaNusantara.id - Akademisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung menyatakan bahwa insiden pengiriman kepala babi ke kantor Tempo melebihi apa yang dapat dibayangkan oleh publik.
Rocky menyebut, taktik intimidasi tersebut sebagai cara berpolitik yang dangkal.
“Bisa saya simpulkan bahwa teror itu adalah bentuk kepengecutan, apalagi dalam politik,” ucap Rocky dikutip SketsaNusantara.id dari Youtube-nya, pada Senin, (24/3).
Menurut Rocky, teror adalah bentuk yang paling kasar dari persaingan politik.
Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi ini menilai, teror bermula dari kegagalan berdebat dalam interaksi antarwarga negara.
“Gagal untuk berargumentasi lalu memakai sentimen, gagal memakai sentimen, lalu memakai hoaks, gagal memakai hoaks, lalu memakai teror,” tuturnya.
Baca Juga: Kantor Tempo Diteror Kepala Babi dan Bangkai Tikus, Begini Respon Kapolri Jenderal Listyo Sigit
Pun masih kata Rocky, teror yang digunakan sangatlah dangkal, yaitu mengirim simbol yang publik tahu, apa artinya babi.
“Kita ingin memperbaiki cara-cara kita berpolitik supaya semacam ada kesetaraan di dalam kehidupan warga negara, ada kesetaraan di dalam kita untuk salin mengapa dengan pikiran, bukan dengan kekerasan,” katanya.
Lebih lanjut Rocky menilai, justru pihak peneror adalah orang yang juga ketakutan, lantaran tidak berani menerangkan argumennya.
“Si peneror itu juga orang yang ketakutan sebetulnya, karena dia tidak berani untuk menerangkan dia siapa, argumennya apa, posisi dia di dalam urusan dengan Tempo apa, bagian mana dari Tempo yang menyinggung dia,” ungkapnya.
Rocky menyatakan bahwa pers adalah wilayah yang dihasilkan oleh peradaban demokrasi.