Awan Cumulonimbus diperkirakan akan sering muncul dan menutupi lebih dari 75% wilayah tertentu dalam periode 18-24 Maret 2025.
Wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Samudra Hindia di sebelah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), Samudra Hindia di sebelah selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Laut Flores.
Kehadiran awan ini berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan kemungkinan badai di wilayah tersebut.
Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang mampu tumbuh vertikal hingga mencapai ketinggian lebih dari 30.000 kaki.
Awan ini sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan dapat menyebabkan perubahan arah serta kecepatan angin secara tiba-tiba, yang berisiko menimbulkan turbulensi dan berbahaya bagi penerbangan.
Selain itu, awan Cumulonimbus dapat menyebabkan angin kencang. Awan ini terbentuk akibat udara hangat dan lembap yang naik dengan cepat ke atmosfer, kemudian mendingin dan membentuk gumpalan awan besar.
Hempasan angin kencang sebelum hujan turun, berpotensi merusak struktur bangunan serta vegetasi dan memicu terbentuknya angin puting beliung.
Keberadaan awan Cumulonimbus ini juga sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, dan badai angin.
Namun, BMKG mencatat bahwa tidak setiap awan Cumulonimbus akan menimbulkan fenomena seperti puting beliung.
Terjadinya puting beliung sangat bergantung pada kondisi labilitas atmosfer saat itu. Meski begitu, keberadaan awan Cumulonimbus tetap harus diwaspadai karena potensi dampak cuaca ekstrem yang dapat ditimbulkannya.
Sementara itu, Kepala BMKG menjelaskan bahwa musim hujan diprediksi akan berakhir pada akhir Maret 2025. Sedangkan pada bulan April diprediksi akan menjadi bulan transisi atau peralihan menuju musim kemarau.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini