SketsaNusantara.id - Proyek kilang RDPM (Refinery Development Master Plan) Balikpapan yang ditangani PT. Kilang Pertamina Indonesia (KPI) dikabarkan alami keterlambatan.
Keterlambatan penyelesaian proyek RDMP Balikpapan diduga disebabkan adanya pembetulan revisi oleh anak perusahaan Pertamina tersebut.
Hal tersebut disampaikan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) yang diwakili Boyamin Saiman.
“Bisa saja karena masing-masing pihak pasti ada alasan pembenarannya, apalagi misalnya nyata-nyata keterlambatan revisi itu oleh Pertamina,” tutur Boyamin seperti dikutip SketsaNusantara.id dari MediusNews.com.
Keterlambatan penyelesaian proyek RDMP Balikpapan ini pun menimbulkan berbagai masalah, mulai dari ancaman terhadap ketahanan energi nasional hingga biaya yang membengkak.
Pembengkakan biaya proyek RDMP Balikpapan ini bahkan diprediksi mencapai 54 persen.
Proyek RDMP Balikpapan awalnya ditaksir menelan biaya sekitar USD 4 miliar, namun kini jumlahnya meningkat hingga USD 7,4 miliar.
Selain biaya yang membengkak, keterlambatan ini juga dapat mengancam ketahanan energi nasional yang saat ini berada di titik kritis.
Dampaknya, ketergantungan pada impor BBM akan terus meningkat hingga berdampak pada ekonomi dan melemahkan daya saing Indonesia di masa depan.