Sehingga pengaturan perdagangan migas kembali dikelola oleh Petral yang saat itu dikabarkan dikendalikan oleh Riza Chalid.
“Kita semua tahu bahwa Petral hanyalah vechile yang selama ini dikendalikan oleh Geng MRC,” tulis Said Didu lagi.
Tak hanya itu, Direktur Utama Pertamina saat itu, Karen Agustiawan kemudian memecat Sudirman Said dari jabatannya.
Selanjutnya pada tahun 2014, Menteri ESDM Sudirman Said membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Gas yang dipimpin mendiang Faisal Basri.
Satgas Anti-Mafia Migas kemudian menemukan fakta bahwa sebagian besar transaksi perdagangan migas di Petral jatuh ke tangan Riza Chalid.
Satgas Anti-Mafia Migas pun merekomendasikan pembubaran Petral, hingga Menteri ESDM meminta Pertamina melakukan audit internal terhadap perusahaan tersebut.
Hasilnya, terdapat persekongkolan dalam pengadaan migas di Indonesia selama ini.
Baca Juga: Muncul Seruan Boikot SPBU 'Plat Merah' di X, Pertamina Bantah Oplos Pertalite Jadi Pertamax
Kendati demikian, hasil temuan Satgas Anti-Mafia Migas yang dilaporkan Pertamina dan Menteri ESDM ke KPK berakhir buntu.
Nama Riza Chalid kembali mencuat usai skandal Papa minta Saham terungkap.
Tokoh utama dalam skandal permintaan saham ke PT. Freeport Indonesia (PTFI) ini menyeret mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dan Riza Chalid.
Berbeda dengan Setnov yang diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun, Riza Chalid dikabarkan tidak tersentuh sedikit pun.
“MRC tidak tersentuh sedikitpun - bahkan berkali-kali sering muncul sebagai tamu VIP Presiden Joko Widodo,” imbuh Said Didu lagi.