SketsaNusantara.id - Wacana Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno yang berencana menerapkan kebijakan kerja empat hari seminggu jadi perbincangan hangat di media sosial.
Kebijakan ini diklaim sebagai langkah inovatif yang terinspirasi dari negara-negara Eropa terutama di Skandinavia yang telah sukses menerapkan sistem serupa. Namun, wacana tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Anggota Tim Transisi Bidang Kebijakan Publik, Nirwono Yoga, menjelaskan bahwa kebijakan memangkas 4 hari kerja seminggu bertujuan untuk mengatasi beberapa masalah besar di Jakarta, seperti polusi udara dan dampak musim hujan yang sering kali menyebabkan banjir.
Sebagaimana diketahui, Jakarta kerap masuk dalam tiga besar kota dengan polusi udara terburuk di dunia selama musim kemarau.
Dengan sistem kerja empat hari seminggu, masyarakat diharapkan dapat lebih banyak bekerja dari rumah (WFH), sehingga mengurangi aktivitas kendaraan yang menjadi salah satu penyumbang polusi udara terbesar.
"Ketika memasuki puncak musim hujan dengan ancaman banjir yang lebih besar di Jakarta, solusi paling mudah adalah meliburkan pekerja," ujar Nirwono dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Kompas TV.
"Begitu pula pada musim kemarau untuk mengatasi polusi, WFH dapat menjadi solusi murah dan praktis, mengingat Jakarta termasuk kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia," imbuhnya.
Selain itu, pengurangan hari kerja ini dirancang untuk memberikan waktu libur lebih banyak bagi pekerja. Hari kerja fleksibel juga diusulkan, misalnya dengan meliburkan pekerja pada Rabu atau Jumat, sesuai keputusan DPRD Jakarta.
Nirwono menambahkan bahwa wacana ini bukan hal baru, karena sebelumnya Heru Budi, Pj Gubernur Jakarta, sebelumnya juga sempat menerapkan WFH saat Jakarta mencapai puncak polusi udara tertinggi tahun 2024 lalu.
Namun, rencana pemangkasan 4 hari kerja seminggu ini memicu perdebatan di masyarakat. Banyak warganet mempertanyakan kesiapan Jakarta dalam mengadopsi sistem kerja seperti ini lantaran .
"Mencontoh negara lain yang sudah baik itu bagus, tapi juga harus dilihat apakah sudah layak diterapkan di Jakarta. Etos kerja masyarakat Indonesia juga tidak semuanya sama, beda jika dibandingkan dengan negara-negara maju di Eropa," komentar salah satu netizen.
Artikel Terkait
Persiapan Pramono Anung - Rano Karno untuk Debat Perdana 6 Oktober 2024, Fokus pada Program yang Dapat Langsung Dikerjakan
Bercerita Latar Belakang dan Akui Sempat Tak Ingin Maju di Pilkada 2024, Pramono: Yang Paling Bertanggung Jawab Namanya Ahok!
Keluar dari Comfort Zone dan Setuju Maju sebagai Calon Gubernur Jakarta 2024, Pramono: Pikiran Saya Hanyalah Cucu..
Siapa Benyamin Sueb yang Disebut Pramono Anung saat Debat Pilkada Jakarta? Berikut Profil Seniman Betawi 'Ayah' Si Doel