Minggu, 19 Juli 2026

Kasus DBD di Jember Capai 1627 di Tahun 2024, Dinas Kesehatan: Angka Kematiannya Rendah

Photo Author
Angga Juli Setiawan, Sketsa Nusantara
- Rabu, 15 Januari 2025 | 14:57 WIB
dr Hendro Soelistijono saat dikonfirmasi. (Dok. SketsaNusantara.id)
dr Hendro Soelistijono saat dikonfirmasi. (Dok. SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Kasus penderita Demam Berdarah (DBD) di Jember, sepanjang tahun 2024 ada sebanyak 1627 kasus.

Angka tersebut dinilai masih rendah dibandingkan dengan penderita di tahun-tahun sebelumnya, karena telah dilakukan proses antisipasi sebelumnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dr Hendro Soelistijono mengatakan, kasus DBD di Jember memang angkanya cukup besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun tetap harus menjadi perhatian.

Baca Juga: Paripurna Usulan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan Bupati serta Wakil Bupati Terpilih, DPRD Jember Segera Kirim Berkas ke Kemendagri

“Memang kasusnya lebih rendah dari angka 5 tahun terakhir, tapi ini tetap menjadi konsen kami dalam mengantisipasinya,” ujarnya saat dikonfirmasi di DPRD Jember, Rabu 15 Januari 2025.

Angka 1627 di tah 2024 ini cukup tinggi, meskipun begitu tingkat kematiannya sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Angka kematian dari 1627 ini ada 16 orang, kemudian di tahun 2025 minggu pertama ada 27 kasus yang terkena DBD,” ungkapnya.

Baca Juga: Siswa di Jember Ini Harus Berjuang Naik Rakit Bambu Menuju Sekolah, Akibat Jembatan Penghubung 2 Desa Putus

Untuk mengantisipasi penyebaran DBD, dr Hendro menegaskan agar masyarakat kini fokus dalam pemberantasan jentik nyamuk di lingkungan rumahnya.

“Penyebab DBD ini adalah genangan, maka perlu dibersihkan minimal 1 minggu sekali,” terangnya.

Bila masyarakat menemukan adanya kasus DBD di lingkungannya, maka segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan untuk segera ditindaklanjuti.

Baca Juga: Kemendagri Keluarkan Surat Edaran Tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Bupati Terpilih, DPRD Jember Segera Gelar Paripurna Istimewa Pekan Ini

“Laporkan kepada kami, jika nantinya ada penderita DBD. Kemudian kita lakukan penelitian dan langsung kita ambil langkah fogging,” imbuhnya.

Ia menambahkan, proses fogging ini sebelumnya dilakukan penelitian di lingkungan sekitar baru dilakukan pengasapan, kalau hasilnya menunjukan rendah kadar potensinya maka tidak dilakukan.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X