Minggu, 19 Juli 2026

Isu PKI Jadi Polemik di Tengah Panasnya Pilkada Jember, Akademisi Unmuh Jember: Jangan Diframing Lihat Konteksnya

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 31 Oktober 2024 | 19:08 WIB
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jember, Itok Wicaksono (FB Itok Wicaksono)
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jember, Itok Wicaksono (FB Itok Wicaksono)

SketsaNusantara.id - Perhelatan Pilkada di Jember kian memanas, karena adanya isu PKI yang sempat dilontarkan oleh Calon Bupati Jember Muhammad Fawait di Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2024 lalu.

Gus Fawait membakar semangat para santri saat berpidato di malam refleksi Hari Santri Nasional, yang diadakan di Kecamatan Silo, pada tanggal 21 Oktober 2024 malam.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait ingin mengajak para santri untuk bisa terus melestarikan dan meneruskan perjuangan para ulama yang berjuang melawan PKI saat itu.

Baca Juga: Relawan Prabowo Siap Menangkan Gus Fawait-Djoko Susanto, Ini Harapannya di Sektor Pertanian

Hal ini ternyata menjadi polemik di masyarakat, hingga persoalan tersebut menjadi buah bibir di media sosial.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Jember Itok Wicaksono, memberikan tanggapannya terkait diksi tersebut yang merujuk pada bentuk refleksi dan penyemangat bagi para santri.

Ia menerangkan, ucapan dari Gus Fawait soal PKI ini bentuk penyemangat bagi para santri agar termotivasi untuk bisa berkembang dan tidak terulang kejadian masa kelam tersebut.

Baca Juga: Para PKL Jember Sampaikan Aspirasi, Gus Fawait Berkomitmen untuk Majukan Ekonomi Rakyat Kecil

“Istilah diksi PKI yang disampaikan ini, bukan untuk mengajak ke arah negatif. Tetapi mengajak agar santri tidak menghalalkan segala cara agar tujuan bisa tercapai, dengan langkah yang tidak bermoral,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Kamis 31 Oktober 2024.

Istilah PKI yang diambil Gus Fawait menurut Itok, sebagai contoh perjuangan ulama, santri dan pondok pesantren mempertahankan kemerdekaan serta mempertahankan ideologi bangsa.

Bila kondisi saat ini digiring ke arah politik ke pasangan calon tertentu, seharusnya ini tidak perlu diframing karena bakal menimbulkan polemik.

Baca Juga: Ratusan Guru Ngaji di Jember Berikan Dukungan ke Gus Fawait-Djoko, Ini Harapan Besarnya

“Seharusnya hal tersebut jangan diframing, tetapi harusnya dimaknai sebagai motivasi dan penyemangat bagi santri agar kejadian di masa kelam ini tidak terjadi,” imbuhnya.

Itok menjelaskan, saat ini kondisi masyarakat Jember khususnya sudah cerdas dan isu tersebut tidak perlu diperbesar dan apalagi dijadikan komoditas politik.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X