Selain menjadi seorang pendidik, ia juga pernah duduk di kursi pemerintahan.
Pada tahun 1969, ia diangkat menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta di mana sebelumnya ia dipercaya menjadi Direktur Jenderal Radio, Televisi dan Film di Departemen Penerangan tahun 1966 hingga 1969.
Sebagai penulis, Umar Kayam banyak menelurkan karya-karya mulai dari cerpen, novel, esai, kolom hingga karya ilmiah.
Beberapa karya sastranya yang terkenal antara lain Sri Sumarah dan Bawuk (novelet, 1975) dan Seribu Kunang-Kunang di Manhatta (1972).***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Menyayat Hati! Percakapan Terakhir Putri Bungsu Jenderal AH Nasution, Ade Irma Suryani Usai Tertembak saat Peristiwa G30S PKI
11 Pemeran Film Pengkhianatan G30S PKI, Ada Seniman hingga Letnan TNI, Siapa yang Jadi Soeharto dan Soekarno?
Kenapa Lagu Genjer-Genjer Dilarang? Inilah Kisah di Balik Salah Satu Lagu di Film G30S PKI Karya Musisi Banyuwangi
Profil Dr. Johannes Leimena Menteri Kesehatan yang Ikut Terdampak Peristiwa G30S PKI, Ternyata Dikenal Sebagai Sosok...
Sinopsis Film G30S PKI yang Wajib Tayang di TV Era Orde Baru Beserta Daftar Pemainnya, Ada Budayawan Umar Kayam