Kamis, 4 Juni 2026

Menghidupkan Kearifan Lokal Lewat Ekspedisi Sumber Tunjung, Gerakan Pemuda Desa untuk Pelestarian Mata Air di Wilayah Jember

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Minggu, 8 September 2024 | 17:07 WIB
Kegiatan ekspedisi mata air di Festival Sumber Tunjung (Festival Sumber Tunjung for SketsaNusantara.id)
Kegiatan ekspedisi mata air di Festival Sumber Tunjung (Festival Sumber Tunjung for SketsaNusantara.id)

Warga mengusulkan berbagai program konservasi, termasuk perbaikan jalan menuju sumber air, pembersihan area mata air, dan penanaman tanaman endemik yang dapat mendukung kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Mengenal Umbul Jumprit, Sebuah Mata Air Suci Peninggalan Majapahit yang Tidak Pernah Kekeringan Lokasinya di…

Aspirasi ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas sumber air dan meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Dari Sumber Tunjung, peserta ekspedisi melanjutkan perjalanan menuju mata air berikutnya, yakni Sumber Kembar di Desa Pakis, Balong Keramat Kyai Nur di Desa Kemuningsari Lor, Sumber Waduk di Desa Glagahwero, Sumber Suci di Desa Suci, Sembah Kemiri di Desa Kemiri, dan berakhir di Sumber Suko yang terletak di Desa Serut.

Masing-masing sumber memiliki cerita dan ritual tersendiri. Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat peserta tiba di Balong Keramat Kyai Nur, yang terletak di dalam area Pondok Pesantren Nahdatul Arifin.

Baca Juga: Masukkan ke Daftar Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi! Panorama Talaga Bodas Garut, Ada Pemandian Air Panasnya

Di sini, peserta diminta untuk mengelilingi balong (kolam) sebanyak tiga kali sambil melantunkan sholawat sebelum mengambil air dari sumber tersebut menggunakan kendi.

Di Desa Suci, prosesi pengambilan air dilakukan pada tengah malam sesuai dengan permintaan para tetua desa. Hal ini menambah unsur spiritual dalam ekspedisi tersebut, di mana seluruh peserta bermalam di Balai Desa Suci sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumber Suko di hari berikutnya untuk menutup rangkaian ekspedisi.

Menurut Irham, Ketua Panitia sekaligus pendiri Rumah Tunjung, wilayah Panti memang dikenal kaya akan mata air yang memiliki nilai spiritual dan budaya tinggi.

Baca Juga: Inilah Air Gentong Keramat Peninggalan Sunan Muria yang Berada di Kudus Jawa Tengah! Dipercaya Sebagai...

Salah satunya adalah Sumber Tunjung, yang dianggap sebagai simbol kesucian dan spiritualitas. Dalam kearifan lokal, ada sebuah kepercayaan bahwa siapa pun yang mampu meraih bunga Tunjung dari sumber ini akan mendapatkan restu alam dan dianggap layak menjadi pemimpin di wilayah tersebut.

Kegiatan ini tidak hanya menekankan pada pelestarian sumber air secara fisik, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan oleh nenek moyang.

Para peserta diajak untuk memahami bahwa mata air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga bersama.

Baca Juga: Kisah Nyai Pandansari Adik Sunan Pandanaran II atau Sunan Tembayat, Konon Katanya Miliki Kekuatan yang Berhubungan dengan Sumber Mata Air?

"Gerakan pemuda desa seperti yang dilakukan oleh Rumah Tunjung sangat luar biasa karena mampu memantik semangat baru dalam merekonstruksi kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, terutama sumber daya air," jelas Gunawan Trip, seorang budayawan dari Srawung Sastra memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X