Warga mengusulkan berbagai program konservasi, termasuk perbaikan jalan menuju sumber air, pembersihan area mata air, dan penanaman tanaman endemik yang dapat mendukung kelestarian lingkungan.
Aspirasi ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas sumber air dan meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar.
Dari Sumber Tunjung, peserta ekspedisi melanjutkan perjalanan menuju mata air berikutnya, yakni Sumber Kembar di Desa Pakis, Balong Keramat Kyai Nur di Desa Kemuningsari Lor, Sumber Waduk di Desa Glagahwero, Sumber Suci di Desa Suci, Sembah Kemiri di Desa Kemiri, dan berakhir di Sumber Suko yang terletak di Desa Serut.
Masing-masing sumber memiliki cerita dan ritual tersendiri. Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat peserta tiba di Balong Keramat Kyai Nur, yang terletak di dalam area Pondok Pesantren Nahdatul Arifin.
Di sini, peserta diminta untuk mengelilingi balong (kolam) sebanyak tiga kali sambil melantunkan sholawat sebelum mengambil air dari sumber tersebut menggunakan kendi.
Di Desa Suci, prosesi pengambilan air dilakukan pada tengah malam sesuai dengan permintaan para tetua desa. Hal ini menambah unsur spiritual dalam ekspedisi tersebut, di mana seluruh peserta bermalam di Balai Desa Suci sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumber Suko di hari berikutnya untuk menutup rangkaian ekspedisi.
Menurut Irham, Ketua Panitia sekaligus pendiri Rumah Tunjung, wilayah Panti memang dikenal kaya akan mata air yang memiliki nilai spiritual dan budaya tinggi.
Salah satunya adalah Sumber Tunjung, yang dianggap sebagai simbol kesucian dan spiritualitas. Dalam kearifan lokal, ada sebuah kepercayaan bahwa siapa pun yang mampu meraih bunga Tunjung dari sumber ini akan mendapatkan restu alam dan dianggap layak menjadi pemimpin di wilayah tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya menekankan pada pelestarian sumber air secara fisik, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan oleh nenek moyang.
Para peserta diajak untuk memahami bahwa mata air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga bersama.
"Gerakan pemuda desa seperti yang dilakukan oleh Rumah Tunjung sangat luar biasa karena mampu memantik semangat baru dalam merekonstruksi kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, terutama sumber daya air," jelas Gunawan Trip, seorang budayawan dari Srawung Sastra memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini.
Artikel Terkait
Pangeran Mas Sepuh, Salah Satu Wali Pitu dari Bali yang Kesaktiannya Gak Main-main: Bisa Berjalan di Atas Air?
Kenapa Masjid Gede Mataram Kotagede Dikelilingi Air? Tempat Ibadah yang Dibangun Panembahan Senopati Ini Punya Filosofi Keren
Yuk Mbolang Ke Pantai Tiga Warna! Punya Pemandangan Air Laut yang Unik dan Mempesona, Cocok untuk Healing dan Liburan Weekend Ini
Yuk, Liburan ke Sumber Taman Wisata Air Hidden di Malang! Memiliki Air yang Bening, Lokasinya di...
Masuk 100 Besar Nominasi ADWI 2024: Desa Wisata di Malang ini Memiliki Air Terjun dan Keragaman Unik Lainnya, Cek Lokasinya di Sini...
Inilah Sendang Kasihan, Sebuah Mata Air Peninggalan Sunan Kalijaga pada Abad ke-15 Masehi Lokasinya di...