Minggu, 23 Agustus 2026

Tersangkut Duri Ikan dalam Tenggorokan Usai Santap MBG, Siswa SMP di Nganjuk Dilarikan ke RS

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:40 WIB
Dapur SPPG Desa Sumbersono, Kecamatan Lengkong, Nganjuk.  (Miftah Anani/SketsaNusantara.id)
Dapur SPPG Desa Sumbersono, Kecamatan Lengkong, Nganjuk. (Miftah Anani/SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian setelah seorang siswa SMP Satu Atap Ngepung, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Sabtu 22 Agustus 2026, mengalami duri ikan tersangkut di tenggorokan saat menyantap makanan yang diterimanya.

Siswa tersebut diketahui bernama FA. Ia harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit pada Jumat setelah mengeluhkan kondisi yang diduga berkaitan dengan duri ikan dari menu MBG yang dikonsumsinya sehari sebelumnya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian bermula pada Kamis ketika FA menyantap menu MBG berupa ikan mujair berbalut tepung. Saat makanan baru dikonsumsi sekitar setengah porsi, FA diduga merasakan duri ikan tersangkut di tenggorokannya.

Setelah pulang ke rumah, kondisi FA kemudian memburuk. Ia mengalami muntah dan demam sehingga keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit pada Jumat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Baca Juga: Kronologi Kepala SPPG di Karanganyar Muntah Usai Icip Menu MBG, Ribuan Porsi Makan Bergizi Gratis Tidak Didistribuskan karena Tak Layak Dikonsumsi

Kakek korban, Abdul Manab membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan biaya pengobatan di rumah sakit disebut telah ditanggung oleh pihak penyelenggara MBG.

“Kami berterima kasih karena biaya rumah sakit katanya ditanggung pihak MBG. Tetapi sampai sekarang belum ada yang datang menjenguk atau sekadar menanyakan bagaimana kondisi anak,” ujarnya.

Bagi keluarga, persoalan tersebut bukan hanya mengenai biaya pengobatan. Perhatian dan kepedulian terhadap kondisi anak yang menjadi penerima manfaat program juga dinilai penting.

Kepala Desa Ngepung, Dwiyana Bekti, ketika dikonfirmasi mengenai kejadian tersebut membenarkan adanya informasi terkait anak yang mengalami masalah setelah mengonsumsi MBG. Namun, ia meminta konfirmasi lebih lanjut dilakukan kepada pihak sekolah.

Njeh, lebih jelasnya monggo langsung komunikasi dari pihak guru Satap (satu atap) mawon njeh,” jawab Dwiyana melalui WhatsApp.

Baca Juga: Miliki Dua Dapur SPPG, Program MBG Belum Menjangkau Pulau Raijua

Keluarga berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap penyediaan makanan MBG, khususnya dalam pemilihan bahan makanan dan proses pengolahan ikan yang berpotensi menyisakan duri.

Sorotan juga datang dari Ketua DPC LSM FAAM Nganjuk, Achmad Ulinuha. Ia menilai persoalan tersebut tidak seharusnya berhenti pada soal biaya pengobatan.

“Kalau biaya pengobatan sudah ditanggung, itu patut diapresiasi. Tetapi tanggung jawab tidak berhenti pada biaya. Ada etika, kepedulian. dan profesionalisme yang juga harus ditunjukkan pengelola SPPG,” ujarnya.

Halaman:

Editor: As'ad Choirudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X