Selasa, 23 Juni 2026

Berangkat Haji Tahun Ini, Purbaya Doakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Makin Bagus, Akui Ingin Tambahkan Nama Baru Setelah Pulang dari Tanah Suci

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 7 Mei 2026 | 12:00 WIB
Potret Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana naik haji tahun ini hingga sampaikan harapannya terhadap perekonomian Indonesia  (Instagram @purbayayudhi.official)
Potret Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana naik haji tahun ini hingga sampaikan harapannya terhadap perekonomian Indonesia (Instagram @purbayayudhi.official)

"Harapannya ke depan makin bagus, kita jaga momentum pertumbuhan ekonomi yang ada. Teman-teman juga ikut doain juga. Fiskal udah bagus jangan dibilang jelek, defisit terkendali dibilang melemah, padahal ekonomi kita juga dibanding negara lain lebih bagus lho," sambungnya.

Menkeu menilai Indonesia mulai perlahan keluar dari fase pertumbuhan ekonomi stagnan dan optimistis momentum ini bisa terus dijaga serta ditingkatkan di tahun-tahun berikutnya.

Purbaya berharap target pertumbuhan ekonomi dapat didorong hingga mendekati 6 persen pada akhir tahun 2026.

Menurutnya, strategi yang diterapkan saat ini sudah berada di jalur tepat dengan didukung kebijakan fiskal yang stabil. Sejumlah program yang mulai berjalan juga diyakini akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi ke depannya.

Dalam kesempatan tersebut, Menkeu juga meluruskan isu mengenai ancaman hiperinflasi di Indonesia yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi aktual.

Ia menyoroti inflasi saat ini masih terkendali di kisaran 2,4 persen, sehingga ekonomi Indonesia belum mengalami oberheating atau tekanan berlebih.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Sentil Kemenkeu Bikin Isu APBN

"Jadi, kita masih stabil. Masih belum kepanasan ekonominya. Tumbuh cepat tapi nggak 'kepanasan'," katanya.

Ia menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan berada di bawah kapasitas potensial, sehingga belum memicu inflasi akibat tingginya permintaan atau kelebihan uang yang beredar di sistem.

Menkeu menanggapi munculnya kekhawatiran akan ada ancaman hiperinflasi yang cenderung berlebihan dan tidak didukung data aktual.

"Apa yang dikatakan demand for inflation, di mana inflasi tersebut ditimbulkan karena permintaan terlalu tinggi atau uang terlalu banyak di sistem, itu belum terjadi. Karena kita masih tumbuh, di bawah laju pertumbuhan ekonomi potensialnya" pungkas Purbaya.

Lebih lanjut, Menkeu juga menekankan bahwa pemerintah siap meredam dampak akibat kenaikan harga global, termasuk harga minyak, melalui kebijakan fiskal dengan memanfaatkan APBN.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X