Nilai Rp10 juta tersebut dirasa sesuai sebab proses produksi sebuah video pendakian memakan biaya yang tidak sedikit.
“Nilai tersebut menyesuaikan dengan keseluruhan proses produksi yang kami lakukan di lapangan termasuk kebutuhan operasional saat pendakian,” sambungnya.
Untuk menerbangkan drone saja, Canro harus mengeluarkan biaya sekitar Rp2 juta per harinya.
“Salah satunya pengurusan izin penerbangan drone yang memerlukan biaya sekitar Rp2 juta per hari,” imbuhnya.
Selain itu, perlengkapan yang dibawa saat mendaki juga menjadi faktor lain mengapa video pendakian miliknya memiliki harga tersendiri.
“Setiap footage yang saya hasilkan di gunung bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah. Saya mendaki dengan membawa beban perlengkapan yang tidak ringan,” jelasnya.
Selain faktor biaya, prosedur perizinan menjadi alasan lain mengapa sebuah video pendakian miliknya tidak bisa dipakai begitu saja secara cuma-cuma.
“Prosesnya tidak berhenti sampai di situ. Untuk dapat menerbangkan drone, kami harus melalui berbagai prosedur perizinan yang cukup panjang dan tidak sederhana,” ujarnya.
Risiko kerusakan alat yang digunakan juga menjadi hal yang harus ditanggung oleh pendaki jika sewaktu-waktu terjadi.
“Belum lagi saat drone diterbangkan, selalu ada risiko mulai dari cuaca, medan ekstrem, hingga kemungkinan perangkat jatuh atau rusak,” kata Canro.
Maka dari itu, Canro merasa ironi jika karya yang dihasilkan melalui perjuangan yang berat, diminta begitu saja secara gratis.
“Rasanya sedikit ironis ketika karya yang lahir dari perjuangan, biaya, tenaga, waktu, dan risiko sebesar itu, masih dianggap sebagai sesuatu yang bisa diminta begitu saja tanpa menghargai nilai di balik prosesnya,” tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Pesona 15 Lukisan SBY dalam Peringatan 5 Tahun Berkarya, Mulai dari Pantai California hingga Berbagai Kota di Pulau Jawa
Program Ganti Atap Rumah Wartawan Berlanjut, Kisah Nyata Rumah Bocor hingga Kesetrum Kini Berubah Lebih Aman dan Sejuk
DPR Usul Reformasi Total Guru, Hapus PPPK hingga P3K Paruh Waktu dan Satukan Jadi PNS Nasional
Bunga dan Pesan Menyentuh Warnai Bekasi Timur, Seminggu Pasca Kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek
Update Kasus Oknum Kiai di Pati yang Diduga Melecehkan 50 Santriwati, Polisi Ungkap Korban Melapor Tahun 2024