"Jika ditelaah dengan menganalisis dari video tersebut, bisa disimpulkan bahwa benda yang berwarna kemerahan itu adalah flare atau suar," ucap BRIN dalam pernyataannya tahun 2022 lalu.
"Kemungkinan besar itu adalam flare, karena untuk ukuran benda jatuh antariksa itu terhitung sangat lambat pergerakannya. Meskipun memang, dari cahayanya sendiri tidak berpendar, namun karena bergeraknya sangat lambat jadi ada kemungkinan cahay itu bukan benda antariksa alami maupun buatan (yang jatuh ke bumi)," terangnya.
Jika diamati berdasarkan kemunculannya, cahaya merah tersebut melayang dan bergerak dengan sangat lambat sehingga BRIN menyimpulkan bahwa objek bukan termasuk kategori benda antariksa seperti meteor, asteroid, maupun benda jatuh sampah antariksa (space debris) yang berasal dari pecahan roket atau satelit yang udah usang.
Meteor atau sampah antariksa biasanya bergerak cepat dan berbentuk seperti bola api berekor karena bergesekan dengan atmosfer saat turun ke Bumi.
Baca Juga: Ahli Astronomi Ungkap Dugaan Benda Bercahaya yang Melintas di Langit Lampung: Bukan Komet
Selain itu, dilihat dari ukuran dan cahayanya yang tidak berpendar, benda melayang di langit Condongcatur, Sleman itu diduga adalah flare atau suar parasut.
Flare, khususnya jenis suar parasut, memang dirancang untuk melayang perlahan di udara dengan memancarkan cahaya terang dalam durasi tertentu. Inilah yang membuatnya tampak seperti "bola api" yang menggantung di langit.
Berbeda dengan meteor yang melesat cepat dan hanya terlihat beberapa detik, flare bisa bertahan lebih lama dan bergerak perlahan.
Sejumlah warganet lainnya juga menyebut cahaya merah tersebut adalah parachute flare atau suar parasut yang ditembakkan suporter saat nonton bareng laga Persiba Balikpapan vs PSS Sleman.
Baca Juga: PSSI Rilis Hasil Sidang Komite Disiplin, Sejumlah Klub Dihukum karena Penonton Menyalakan Flare
"Itu parachute flare dari nobar di Marguwo tadi malam. Parachute flare atau rocket flare juga dipakai kapal pelayaran sebagai pertanda darurat dan biasanya cahaya bisa bertahan 30-60 detik melayang di langit," komentar netizen di kolom komentar unggahan akun @merapi_uncover.
Selain flare, beberapa kemungkinan lain yang bisa saja memunculkan cahaya merah di langit adalah drone atau lampion terbang.
Lampion bisa memancarkan cahaya merah mencolok dan sering terlihat seperti bola api kecil yang melayang perlahan sebelum akhirnya padam.
Sementara itu, drone dengan lampu navigasi juga bisa diam di satu titik dengan memancarkan cahaya terang, sehingga tampak seperti objek misterius di langit.
Tak sedikit pula warganet yang menyebut cahaya merah itu adalah fenomena banaspati yang menurut kepercayaan masyarakat, cahaya semacam ini kerap dikaitkan dengan hal mistis.
Artikel Terkait
Bikin Takjub, Fenomena Awan Berlubang di Langit Jember Viral di Media Sosial, Benarkah Karena Jejak UFO di Indonesia? Begini Penjelasan BMKG
Aneh tapi Nyata, Pohon Jati di Kuningan Jawa Barat Mendadak Terbakar saat Hujan, Benarkah karena Tersambar Petir? Begini Penjelasan BRIN
Ngeri! Awan Cumulonimbus Selimuti Jember Disertai Hujan Deras dan Angin Kencang, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Perubahan Cuaca di Awal Peralihan Musim
Heboh Fenomena Awan Merah Bercabang Terlihat Seperti Langit Terbelah di Yogyakarta, Benarkah Pertanda Akan Terjadi Gempa Bumi? Begini Penjelasan BMKG
Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah Kian Mengkhawatirkan, Akses Warga Terputus, Ini Penjelasan Lengkap dari BRIN
Kenapa Disebut Blood Moon? Ini Penjelasan BRIN soal Penyebab Bulan Berwarna Merah saat Gerbana Bulan Total 3 Maret 2026