Hal ini disebut sebagai tudingan yang tidak berdasar dan berpotensi merugikan reputasi tenaga pendidik. Situasi tersebut dinilai menciptakan tekanan sosial sekaligus risiko hukum bagi pihak sekolah.
Dalam surat itu juga dijelaskan bahwa kondisi tersebut telah mencederai martabat profesi guru. Selain itu, munculnya persepsi negatif di masyarakat dianggap sebagai dampak dari sistem distribusi yang belum optimal.
Sebagai respons, SMAN 1 Ciemas menyatakan keberatan atas pelibatan guru dalam pengelolaan MBG. Sekolah juga menolak tanggung jawab terkait pengelolaan sisa makanan siswa yang tidak hadir.
"Menolak tanggung jawab atas pengelolaan sisa makanan siswa yang tak hadir," terang SMAN 1 Ciemas dalam surat tersebut.
Lebih lanjut, pihak sekolah meminta agar SPPG Al-Mubarokah menyediakan tenaga khusus untuk menangani distribusi makanan. Permintaan ini bertujuan agar proses pembagian dapat berjalan tanpa melibatkan guru secara langsung.
Sekolah juga menekankan pentingnya adanya tim mandiri dari SPPG. Dengan demikian, distribusi MBG dapat dilakukan secara profesional tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak SPPG Al-Mubarokah terkait isi surat yang beredar tersebut. Situasi ini masih menjadi perhatian publik dan terus diperbincangkan di media sosial.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kasus Keracunan MBG di Jaktim, 72 Siswa dari 4 Sekolah Dirawat, Pramono Anung Ungkap Kondisi Korban
Sisa MBG Dikumpulkan Guru Jadi Pakan Bebek, Guru: daripada Dibuang Sia-Sia
Program MBG Disorot, Guru MIN 1 Purbalingga Keluhkan Beban Tambahan Urus Ompreng
Tulis Pesan Terbuka untuk Prabowo Subianto, Siswa SMK di Kudus Sampaikan Penolakan Terima Jatah MBG, Minta Dialihkan untuk Tunjangan Guru
Seorang Siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Mengaku Dicopot sebagai Ketua OSIS, Diduga karena Menolak Program MBG