Sementara itu, kulit bawang putih yang sudah rusak kemudian diolah menjadi eco enzyme yang berfungsi sebagai desinfektan alami, sehingga tetap memberikan manfaat bagi lingkungan.
Dalam mengembangkan inovasinya, Raihan juga mendapat bimbingan dari Fadilah, guru pembinanya, Fadilah. Produk tinta spidol buatannya bahkan sudah mulai diproduksi dan banyak laku terjual setelah diperkenalkan ke masyarakat.
Inovasinya mulai mendapat respons positif, bahkan Raihan telah memiliki sekitar 25 mitra yang menjadi penyuplai kulit bawang putih hingga terkumpul seberat 3,12 ton.
Hingga kini, Raihan terus menyempurnakan kualitas produk buatannya, termasuk mengembangkan tinta yang dapat digunakan untuk kebutuhan lain seperti mesin fotokopi.
Produk tinta ramah lingkungan buatan Raihan diberi nama Kubangput Refill Ink sesuai dengan asal mulanya dari kulit bawang putih (disingkat kubangput). Harapannya produk tinta ramah lingkungan ini bisa dipromosikan hingga tingkat nasional dan internasional.
Inovasi Raihan ini mendapat apresiasi hingga menraih juara 2 Duta Lingkungan Hidup, Pangeran Lingkungan Hidup 2024.
Meski telah mencapai tahap ini, Raihan tidak berpuas diri. Ia terus menyempurnakan karyanya, dan berencana memproduksi eco enzym serta produk ramah lingkungan seperti sabun cair sederhana hingga toner untuk mesin fotokopi.
"Rasanya kok eman (sayang sekali, red) kalo kulit bawang putih dicampur dengan sampah organik lainnya dan cuma jadi kompos saja," tuturnya.
Inovasi ini menjadi contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Dengan kreativitas dan kemauan untuk mencoba, limbah yang selama ini dianggap tidak berguna bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Kisah Raihan juga menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya. Tidak perlu menunggu menjadi ilmuwan besar, ide sederhana yang dipelajari cara pengolahannya dengan tekun bisa memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Inovasi menjadi angin segar di tengah isu global tentang pengelolaan sampah, sekaligus mengingatkan publik bahwa solusi untuk masa depan bisa saja berasal dari hal-hal kecil di sekitar kita, bahkan dari limbah kulit bawang putih yang sering dianggap sepele.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Ketika Karya Jadi Data Latihan, Inilah Seruan Protes Pekerja Kreatif yang Tak Pernah Dimintai Izin
Menengok Usaha Kreatif: IRT di Jember Sukses Pasarkan Karya Seni Rajutan Boneka Amigurumi
Jember Semakin Kreatif di 2025: Musik, Batik, Kuliner, dan Wisata Dorong Ekonomi Lokal
Kisah Inspiratif Craftote, UMKM Kreatif Jakarta yang Sukses Tembus Kanada dan Jepang Berkat Pendampingan BRI
Dosen Unmuh Jember Sulap Lahan Gersang Jadi Kebun Anggur Eduwisata, Cocok Jadi Rekomendasi Kegiatan Ngabuburit