Kamis, 4 Juni 2026

Ini Analisis BHR Kemenag, Idul Fitri 2026 Berpeluang Serentak Meski Syarat Elongasi Belum Ideal

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Rabu, 18 Maret 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi lebaran Idul Fitri 2026  (Freepik/rawpixel.com)
Ilustrasi lebaran Idul Fitri 2026 (Freepik/rawpixel.com)

SketsaNusantara.id - Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 diperkirakan berpotensi dirayakan secara serentak oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Prediksi ini mencuat berdasarkan hasil perhitungan hisab yang dihimpun oleh Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sejauh ini, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni metode perhitungan astronomi yang menandai awal bulan hijriah ketika hilal sudah berada di atas ufuk, tanpa menunggu hasil rukyat atau pengamatan langsung.

Baca Juga: Rahasia Bumbu Dasar Awet hingga Hari H Lebaran, Tetap Segar dan Tidak Cepat Basi

Sementara itu, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU) masih akan menunggu hasil rukyatul hilal yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Maret 2026. Penentuan resmi Idul Fitri akan diputuskan melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama pada hari yang sama.

Meski menggunakan metode berbeda, peluang Lebaran tahun ini dirayakan secara bersamaan cukup terbuka. Hal ini disampaikan oleh salah satu Tim ahli BHR Kemenag Tuban, Kasdikin. Ia menyebutkan bahwa posisi hilal pada saat rukyat diperkirakan sudah memenuhi kriteria ketinggian minimum.

“Jika melihat kondisi tersebut, kemungkinan besar Idul Fitri bisa dirayakan secara bersamaan,” jelasnya, dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Kompas TV. 

Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, PMI Jember Siagakan Posko Mudik dan Tim Mobile Keliling, Fokus Amankan Jalur Selatan yang Rawan Cuaca Ekstrem

Berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal di wilayah barat Indonesia pada 19 Maret 2026 diperkirakan telah mencapai ketinggian sekitar 3 derajat. Angka ini sebenarnya sudah memenuhi salah satu syarat visibilitas hilal yang menjadi acuan dalam penentuan awal bulan hijriah.

Namun demikian, terdapat satu parameter penting lain yang belum sepenuhnya terpenuhi, yakni elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari. Dalam kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), batas minimal elongasi yang disepakati adalah 6,4 derajat.

Dalam kondisi saat ini, elongasi hilal diprediksi baru mencapai sekitar 5 derajat. Artinya, meskipun ketinggian hilal sudah mencukupi, aspek elongasi masih berada di bawah standar yang telah ditetapkan.

Baca Juga: Sejarah Panjang THR dari 'Hadiah Lebaran' Kabinet Soekiman hingga Peran Politik PKI dan SOBSI dalam Menekan Pengusaha

Kondisi tersebut membuat keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pengamatan langsung di lapangan. Jika hilal berhasil terlihat saat rukyat, maka besar kemungkinan pemerintah akan menetapkan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 20 Maret 2026, sama seperti yang telah diputuskan Muhammadiyah.

Sebaliknya, apabila hilal tidak terlihat dan kriteria MABIMS dianggap belum terpenuhi, maka ada kemungkinan penetapan Idul Fitri akan mundur satu hari.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Youtube Kompas TV

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X