Selain menjadi peneliti, ia juga pernah dipercaya memimpin Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P-LIPI) sebagai kepala lembaga. Posisi tersebut memperkuat reputasinya sebagai salah satu ilmuwan politik berpengaruh di Indonesia.
Karier Prof Ikrar tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Ia juga pernah dipercaya pemerintah untuk mengemban tugas diplomatik sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia pada periode 2017 hingga 2019.
Selama menjabat sebagai duta besar, ia aktif memperkuat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tunisia, termasuk dalam bidang pendidikan, budaya, dan kerja sama politik.
Pengalaman diplomatik tersebut membuatnya memiliki perspektif luas dalam membahas isu hubungan internasional.
Prof Ikrar Nusa Bhakti merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pada tahun 1983.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Ph.D. dalam bidang Sejarah Politik dari School of Modern Asian Studies, Griffith University, Brisbane, Australia, pada tahun 1992.
Selama karier akademiknya, Prof Ikrar juga aktif menulis berbagai karya ilmiah terkait politik dan demokrasi di Indonesia.
Salah satu catatan menarik dalam perjalanan intelektualnya adalah keterlibatannya dalam penerbitan buletin Politika di jurusan Ilmu Politik FISIP UI. Buletin tersebut sempat menjadi perhatian pada masa Orde Baru karena memuat tulisan yang mengkritisi penyimpangan konsep dwifungsi ABRI.
Konten tersebut akhirnya membuat buletin itu sempat dilarang beredar kembali pada masa tersebut.
Viralnya insiden debat di televisi membuat nama Prof Ikrar kembali menjadi perbincangan publik. Banyak pihak kemudian menyoroti rekam jejaknya sebagai akademisi dan diplomat.
Terlepas dari kontroversi yang terjadi dalam program televisi tersebut, Prof Ikrar tetap dikenal sebagai salah satu pengamat politik senior yang aktif memberikan analisis mengenai perkembangan politik nasional maupun internasional.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
5 Kontroversi Abu Janda! Ngaku Dipanggil Prabowo Subianto untuk Bergabung di Kabinet, Pernah Berulang Kali Dilaporkan ke Pihak Berwajib?
Siapa Abu Janda? Inilah Sosok Pegiat Media Sosial yang Hebohkan Publik karena Mengaku Ikut Diundang ke Kediaman Prabowo
Jasa Marga Buka Suara soal Kabar Pengangkatan Permadi Arya alias Abu Janda Jadi Komisaris di BUMN, Ternyata Cuma Hoaks?
6 Kontroversi Permadi Arya Alias Abu Janda yang Digosipkan Jadi Komisaris PT JMTO: Sentil Natulius Pigai hingga Bendera Tauhid