Kamis, 4 Juni 2026

Eks Menlu Hassan Wirajuda Soroti Ketegangan Konflik Timur Tengah, Sebut Iran Tak Gampang Dikalahkan Meski Sering Diserang Negara Lain, Ini Alasannya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 15:00 WIB
Potret Tel Aviv yang dihujani serangan rudal dari Iran pasca Israel serang Tehran di tengah ketegangan konflik Timur Tengah (X/@White_Ghost187)
Potret Tel Aviv yang dihujani serangan rudal dari Iran pasca Israel serang Tehran di tengah ketegangan konflik Timur Tengah (X/@White_Ghost187)

SketsaNusantara.id - Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda ikut buka suara menanggapi konflik Timur Tengah yang kian memanas.

Pasca serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Tehran pada akhir Februari 2026 lalu, Iran melancarkan serangan balasan ke Tel Aviv hingga Yerussalem yang membuat pihak musuh kewalahan.

Tak hanya itu, Iran juga melakukan serangan ke berbagai pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait hingga Bahrain, bahkan menutup Selat Hormuz yang ikut berdampak pada stabilitas pasokan energi global.

Dunia ramai menyoroti serangan Iran ke Israel yang bertubi-tubi melancarkan rudal ke Tel Aviv, untuk menghancurkan pusat pertahanan utama Israel yang selama ini jadi markas IDF.

Baca Juga: Strategi Cerdas Iran Kelabuhi IDF, Israel Diduga Rugi 4 Juta Dolar Gegara Salah Tembakkan Rudal ke Helikopter yang Ternyata Cuma Lukisan di Atas Aspal

Meskipun ibu kota dipindahkan ke Yerusalem pada 1949, Tel Aviv tetap menjadi jantung administratif, militer, dan ekonomi negara, menjadikannya target sasaran Iran di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Kekuatan militer Iran bahkan disebut-sebut lebih unggul dari Amerika Serikat dan Israel yang akhir-akhir ini ramai jadi perbincangan, termasuk di Indonesia.

Melihat situasi tersebut, Hassan Wirajuda menilai Iran bukanlah negara yang mudah ditekan meskipun selama ini kerap menghadapi berbagai tekanan internasional.

Dalam sebuah wawancara bersama Rosiana Silalahi beberapa waktu lalu, Hassan menyebut ketahanan Iran tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari perjalanan sejarah panjang bangsa tersebut.

Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Memuncak, 2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz

"Iran bisa bertahan meski berulang kali ditekan oleh dunia internasional, tentunya itu tidak datang dengan sendirinya. Dalam perjalanan sejarah, Persia dulu itu punya peradaban setua 2.500 tahun, dan practically continues," ujarnya dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah akun Instagram @silalahirosi pada hari Jumat, 6 Maret 2026.

"Mesir boleh punya peradaban tua 7.000 tahun, lebih dari 5.000 tahun, tapi interaktif. Iran lebih continues, modal besar. Mereka menghadapi tekanan, isolasi, bahkan perang," sambungnya.

Menteri Luar Negeri era Presiden Megawati dan Presiden SBY itu menyebut kekuatan Iran juga dipengaruhi oleh warisan peradaban Persia yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Hassan juga menilai masyarakat Iran dikenal memiliki kemampuan intelektual yang kuat serta ketangguhan dalam diplomasi internasional.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X