Minggu, 19 Juli 2026

Guru Temukan Jamur pada Menu Program Makan Bergizi Gratis, Perdebatan dengan Ahli Gizi Soroti Standar Keamanan Pangan di Sekolah

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Jumat, 6 Maret 2026 | 13:15 WIB
Ilustrasi temuan jamur kapang. (X/anhtiss)
Ilustrasi temuan jamur kapang. (X/anhtiss)

SketsaNusantara.id - Temuan jamur pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sebuah sekolah memicu perdebatan antara seorang guru dan pihak ahli gizi yang bertanggung jawab terhadap penyediaan makanan tersebut.

Kisah ini menjadi sorotan setelah dibagikan melalui media sosial dan mengundang perhatian publik terkait standar keamanan pangan dalam program makanan bagi siswa.

Dalam unggahan yang beredar, seorang guru menceritakan pengalamannya menemukan indikasi kontaminasi jamur pada bahan makanan yang menjadi bagian dari menu burger dalam program MBG.
 
Baca Juga: Anggaran MBG Rp8-10 Ribu Jadi Perdebatan, Netizen Bandingkan dengan Program Makan Balita yang Dinilai Lebih Efisien

Guru tersebut mengaku menemukan jamur berbentuk miselium pada sayuran yang digunakan sebagai bahan burger, yakni tomat dan timun.

Dilansir SketsaNusantara.id dari akun media sosial @anhtiss, guru tersebut menuturkan bahwa temuan itu terjadi ketika ia memeriksa makanan yang sudah dibagikan kepada siswa. Ia menjelaskan bahwa jamur yang ditemukan terlihat cukup jelas pada permukaan sayuran.

“Saya nemu jamur dengan miselium yang panjang di tumpukan tomat dan timun menu burger. Miselium itu kumpulan benang-benang warna putih kayak di permukaan tempe,” tulisnya.
 
Baca Juga: Viral Menu MBG untuk Anak PAUD: Pisang Kecil, Telur Rebus, hingga Timun Utuh Jadi Sorotan

Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa jamur yang ditemukan memiliki ciri khas miselium yang biasanya muncul pada makanan yang telah terkontaminasi atau disimpan dalam kondisi yang kurang higienis.

Guru tersebut juga menambahkan bahwa ketika tomat yang menempel pada timun diangkat, miselium jamur terlihat masih dalam kondisi segar.

“Jadi ketika tomatnya yang nempel di timun itu saya angkat, wah miseliumnya masih fresh banget. Bukti kalau jamurnya muncul di dalam ompreng,” jelasnya.
 
Baca Juga: Driver MBG dan Siswi SD di Cianjur Jadi Sorotan, Konten Dinilai Tak Pantas

Setelah menemukan indikasi kontaminasi tersebut, guru itu tidak langsung melayangkan protes keras.

Ia mengaku memilih untuk menyampaikan informasi tersebut secara profesional kepada pihak sekolah dan penyedia makanan. Ia juga mendokumentasikan temuan tersebut sebagai bukti.

“Saya foto buktinya, rembug dengan kepsek, lalu menginformasikan kalau ada jamur. Menginformasikan ya, bukan komplain,” jelasnya lagi.

Menurutnya, tujuan utama dari penyampaian informasi tersebut adalah agar pihak terkait dapat melakukan evaluasi serta perbaikan pada sistem distribusi makanan.

Namun respons yang diterimanya dari pihak ahli gizi justru memicu perdebatan. Menurut pengakuannya, ahli gizi yang dihubungi mengakui bahwa jamur tersebut memang merupakan jenis kapang atau mold.

Guru tersebut menyebutkan bahwa dalam penjelasan yang disampaikan melalui pesan suara, ahli gizi menyatakan tiga hal utama.

Pertama, membenarkan bahwa itu jamur kapang (mold). Kedua, pihak ahli gizi juga mengakui bahwa kontaminasi dapat terjadi akibat lingkungan yang tidak bersih.

Ia mengatakan bahwa kapang bisa muncul karena adanya kontaminasi dan lingkungan yang tidak bersih.

Namun pada poin ketiga, guru tersebut merasa justru disalahkan atas temuan tersebut. Ia mengutip pernyataan dari ahli gizi yang mempertanyakan waktu pengambilan foto.

Dalam penjelasan tersebut disebutkan, “emang itu ibunya ngefoto jam berapa? Kalau sudah lewat jam batas konsumsi, ya bisa aja muncul jamur.”

Pernyataan tersebut memicu ketidakpuasan dari pihak guru. Ia menjelaskan bahwa foto tersebut diambil pada pukul 09.50 WIB, saat makanan baru saja dibagikan kepada siswa sebelum jam istirahat sekolah.

Ia menegaskan bahwa pada waktu tersebut makanan masih dalam kondisi yang seharusnya layak konsumsi.

“Btw gw ngefoto itu jam 09.50 WIB dimana MBG barusan dibagi ke murid sebelum jam istirahat,” katanya.

Selain itu, guru tersebut juga mempertanyakan standar operasional yang diterapkan dalam distribusi makanan MBG. Ia mengaku tidak pernah menerima informasi mengenai batas waktu konsumsi makanan dari pihak penyedia.

“Apakah SPPG pernah kasih imbauan dan edukasi kalau ada jam batas konsumsi MBG sebelumnya?” tanyanya.

Menurutnya, hal tersebut tidak pernah disampaikan kepada pihak sekolah.

Guru tersebut juga menyoroti waktu distribusi makanan yang menurutnya terlalu pagi. Ia mengungkapkan bahwa makanan telah tiba di sekolah bahkan sebelum pukul 07.00 pagi, sementara konsumsi dilakukan beberapa jam kemudian.

“MBG-nya udah di sekolah sebelum jam 7 pagi. Lha bayangin aja ini tomat sama timun udah di dalam ompreng selama berapa jam?” ungkapnya.

Kondisi tersebut menurutnya berpotensi menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme, termasuk jamur.

Dalam diskusi lanjutan, pihak ahli gizi disebutkan memberikan sampel pembanding yang diklaim masih dalam kondisi baik hingga sore hari.

Guru tersebut mengutip pernyataan mereka yang mengatakan, “Di sample kami hingga sekitar maghrib ini buktinya masih fresh bu. Tidak ada yang jamuran.”

Namun guru tersebut menilai argumen tersebut tidak serta merta membantah temuan yang terjadi di sekolahnya. Ia menegaskan bahwa adanya sampel yang baik tidak meniadakan kemungkinan adanya kasus lain.

“Kalau sample-mu gak jamuran, bukan berarti kalian meniadakan data outliers yang kebetulan muncul di sekolah saya ini,” katanya.

Meski perdebatan berlangsung cukup panjang, guru tersebut menyatakan bahwa makanan yang terindikasi terkontaminasi tidak sempat dikonsumsi oleh siswa.

Ia menjelaskan bahwa burger yang ditemukan berjamur merupakan sisa setelah semua murid menerima jatah makanan.

“Burger yang saya ceritakan ini ada di ompreng sisa setelah semua murid dapat jatah. Syukurlah gak ada yang mengkonsumsi burger ini,” tuturnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya standar keamanan pangan yang ketat dalam program makanan sekolah.

Distribusi, penyimpanan, serta waktu konsumsi harus diperhatikan agar makanan tetap aman bagi siswa.

Guru tersebut juga berharap pihak terkait lebih terbuka terhadap kritik dan masukan.

Menurutnya, setiap laporan seharusnya menjadi bahan evaluasi demi meningkatkan kualitas layanan kepada siswa.***
 
 Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X