Minggu, 19 Juli 2026

Jejak Sunyi Wahyudin di Kalongliud Bogor: Dari Sarjana Akuntansi hingga Mengubah Lahan Terlantar Jadi Harapan Baru Desa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 23 Februari 2026 | 14:38 WIB
Wahyudin. (Dok. ANTAM)
Wahyudin. (Dok. ANTAM)

SketsaNusantara.id - Jalan hidup Wahyudin melenceng jauh dari bayangan banyak orang. Lulusan sarjana akuntansi itu memilih pulang kampung, merawat tanah, dan menghidupkan desa.

Pemuda kelahiran 1988 itu kembali ke Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Ia meninggalkan peluang kerja di kota dan memilih bergelut dengan pertanian.

Pilihan itu lahir dari kegelisahan panjang menyaksikan desanya terjebak aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin. Tekanan ekonomi dan rusaknya irigasi sejak 2020 memperparah situasi.

Baca Juga: Program Garitan Kalongliud ANTAM Buktikan Pertanian Sirkular Mampu Tingkatkan Pendapatan Petani hingga 65 Persen

Banyak warga terpaksa menambang demi penghasilan harian. Risiko keselamatan kerap diabaikan demi bertahan hidup.

“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.

Baginya, tanah pertanian adalah jawaban atas krisis yang melilit desa. Lahan yang lama ditinggalkan diyakini menyimpan potensi besar.

Baca Juga: Update Harga Emas Hari Ini Kamis 19 Februari 2026: Naik Rp4.000, Simak Daftar Lengkap Emas Antam dari 0,5 hingga 1 Kg

“Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.

Kesempatan datang pada 2022 melalui program inovasi sosial Garitan Kalongliud dari PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor. Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat.

Ia memimpin Kelompok Taruna Muda dan menggerakkan pemuda desa. Sebanyak 35 hektar lahan tidur mulai diolah kembali.

Hambatan muncul dari berbagai arah. Harga pupuk melonjak dan serangan hama keong mas mengancam tanaman padi.

Keterbatasan air juga menjadi tantangan besar. Wahyu mengandalkan pelatihan untuk mencari solusi berkelanjutan.

Ia mengembangkan Pupuk Organik Cair Beko dari fermentasi keong mas dan urin domba. Limbah ternak dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X